Selasa, 26 Juni 2012

STRATEGI BELAJAR PQ4R

BAB II KAJIAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR A. Kajian Teori 1. STRATEGI BELAJAR PQ4R Buku siswa merupakan buku panduan bagi siswa dalam kegiatan pembelajaran yang memuat materi pelajaran, kegiatan penyeledikian berdasarkan konsep, informasi dan contoh-contoh penerapan materi dalam kehidupan sehari-hari. Buku materi sering kali menjadi rujukan utama siswa sebagai panduan praktek, sumber pengayakan materi dan jawaban konsep pelajaran. Cara membaca buku materi yang tidak terstruktur menimbulkan bias dan kebingungan siswa. Siswa cenderung menjadikan pernyataan dalam buku sebagai kebenaran mutlak yang tidak tergantikan. Fungsi buku materi sebenarnya merupakan sebagai pemicu untuk siswa dapat 9 melakukan eksplorasi lebih jauh lagi dari pengetahuannya yang semula sederhana. Strategi belajar PQ4R merupakan bagian dari model-model pembelajaran inovatif berorientasi pada teori konstruktifisme. Teori pembelajaran konstruktifisme merupakan teori pembelajaran kognitif yang memiliki konsep siswa harus menemukan sendiri dan mentrnsformasikan informasi komplek, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu sudah tidak sesuai lagi (Trianto, 2007 : 26). Strategi belajar PQ4R merupakan salah satu konsep model belajar yang mengarah pada konstruktivisme yaitu mengarahkan siswa untuk mencari tahu dan membentuk analisanya sendiri menurut hasil yang ditemukan di lapangan. Sedangkan metode belajar PQ4R masuk dalam kategori Teori Elaborasi bersama dengan 2 metode belajar yang lain yaitu pembuatan catatan dan analogi. Para ahli pendidikan berpendapat bahwa inti kegiatan pendidikan adalah memulai pelajaran dari”apa yang diketahui anak didik”. Guru / dosen tidak dapat mengindoktrinasi gagasan ilmiah supaya peserta didik mau mengganti dan memodifikasi gagasannya yang non-ilmiah menjadi gagasan / pengetahuan ilmiah (Dr.Dasim Budimansyah, 2003 : 11). Siswa lah yang dapat merubah sendiri tentang pandangan suatu pembelajaran sedangkan guru berfungsi sebagai fasilitator dan pembmbing siswa. Konsep ini berguna sebagai pentajaman pola pikir siswa terhadap konteks sebuah pembelajaran. 10 Metode belajar yang berbasis siswa untuk dapat berperan aktif dalam mengetahui dan memahami materi bertitik tolak pada teori konstruktivisme. Teori konstruktivisme yaitu siswa yang menemukan, menyalurkan informasi, mengevaluasi kembali dengan aturan yang terdahulu dan memperbaiki aturan lama yang tidak sesuai dengan konsep yang telah ditemukan. Konstruktivisme merangsang siswa menerapkan konsep baru yang didapat dari sisi kognitif yang telah dimiliki siswa. Rangsangan ini untuk membentuk siswa agar mau menemukan sendiri konsep yang telah ada dan dikembangkan lebih lanjut. Strategi adalah cara-cara atau aturan tertentu dalam melaksanakan sesuatu jika dilakukan sesuai dengan yang ditetapkan akan mencapai hasil yang diinginkan. Sedangkan belajar merupakan suatu pengembangan seluruh kepribadian individu baik segi fisik maupun psikis.(Nana Syaodih Sukmadinata, 2007a : 179). Jadi strategi belajar ialah upaya-upaya yang dilakukan pengajar dalam rangka untuk meningkatkan pengambangan seluruh kepribadian siswa baik fisik maupun psikis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Para guru harus jeli dalam memperhatikan kebutuhan siswanya dalam pembelajaran karena jika guru tidak mampu untuk menerjemahkan kebutuhan siswa maka tujuan pembelajaran tidak akan tercapai. Strategi belajar tertentu dirancang dalam penyampaian materi ajar sehingga siswa dengan mudah dapat memperoleh informasi yang dibutuhkan untuk kepentingan belajarnya. Prinsip dasarnya yang telah diketahui bahwa 11 PQ4R merupakan suatu metode yang digunakan siswa dalam membaca agar lebih bermakna. Dalam hal ini, siswa membaca materi pelajaran yang telah ditentukan dan berusaha mencari pokok-pokok yang diajarkan dengan caranya sendiri. Membaca membutuhkan konsentrasi yang tinggi agar siswa dapat memahami keseluruhan isi materi bermodalkan kemampuan awal pengetahuan mereka tetang hal tersebut. Membaca adalah suatu cara untuk mendapatkan informasi yang disampaikan secara verbal dan merupakan hasil ramuan pendapat, gagasan, teori-teori, hasil penelitian para ahli untuk diketahui dan menjadi pengetahuan siswa. Kemudian pengetahuan tersebut dapat diterapkan dalam berfikir, menganalisis, bertindak, dan dalam pengambilan keputusan. (Drs.H. Martinis Yamin, M.Pd, 2007 : 106) Setiap siswa dituntut banyak membaca, membaca akan membuat lebih mudah “melihat” apa yang sedang dibicarakan oleh penceramah, guru, dosen, sebuah buku, dan program komputer. Siswa berdasar visual akan lebih baik bila dia melihat contoh nyata dari dunia nyata, seperti diagram, peta konsep, peta gagasan, ikon, gambar, dan gambar dari segala macam hal ketika mereka sedang belajar. Jika siswa mendengarkan saja maka akan mudah terlupa. Ada baiknya jika siswa membaca dari sumber yang berkaitan agar informasi yang didengar lebih dimengerti dan dipahami untuk dijadikan pembahasan lebih jauh yang menghasilkan nilai belajar yang bermakna. 12 Strategi PQ4R merupakan salah satu bagian dari strategi elaborasi. PQ4R merupakan konsep belajar mandiri yang menuntut siswa berperan aktif untuk mengetahui dan memahami isi materi. Strategi elaborasi adalah proses penambahan perincian sehingga informasi baru akan menjadi lebih bermakna, oleh karena itu membuat pengkodean lebih mudah dan lebih memberikan kepastian. Teori Elaborasi mengembangkan penyediaan penerapan keseluruhan isi untuk pengurutan dan pembuatan proses belajar agar lebih bermakna dan memotivasi siswa. (Charles M. Regeluth,1999 : 428). Strategi belajar PQ4R ini sebuah pembelajaran bermakna yang dilakukan siswa didalam kelasnya masing-masing. Dalam pembelajaran bermakna ada 2 hal penting yang dipelajari, yang pertama bahan yang dipelajari dan yang kedua, struktur kognitif yang ada pada individu (Nana Syaodih Sukmadinata, 2007a : 188). Struktur kognitif yang dinilai dalam pembelajaran bermakna antara lain; jumlah, kualitas, kejelasan dan pengorganisasian siswa dalam menerima informasi materi ajar. Khususnya, pada Pendidikan Agama Islam struktur kognitif yang dinilai pada diri siswa ialah moral kognitif yang diterapkan dalam kesehariannya terutama saat di sekolah. Adapun langkah-langkah pembelajaran kognitif menurut Nana Syaodih Sukmadinata (2007a : 194) sebagai berikut : 1. Menghadapkan siswa suatu situasi yangmengandung dilema moral atau pertentangan nilai. 13 2. Siswa diminta memilih salah satu tindakan yang mengandung nilai moral tertentu. 3. Siswa diminta mendiskusikan / menganalisis kebaikan dan kejelekannya. 4. Siswa didorong untuk mencari tindakan-tindakan yang lebih baik. 5. Siswa menerapkan tindakan dalam segi lain. Strategi belajar PQ4R membantu proses belajar mengajar di kelas yang dilaksanakan dengan kegiatan membaca buku. Diharapkan, siswa dapat lebih dapat mengingat materi yang telah dibaca seiring tumbuhnya minat baca mereka. Strategi PQ4R merupakan salah satu metode kontekstual yang sangat diperlukan dalam pembelajaran yang bersifat konsep dasar dan menanamkan ketentuan-ketentuan yang baku. Strategi PQ4R menggunakan beberapa tahapan yang harus dilalui. Pengurutan strategi belajar digunakan siswa untuk memahami tugas dengan menyeluruh untuk memperoleh keterampilan yang diharapkan dapat diaplikasikan dalam materi belajar secara menyeluruh. Siswa yang membaca secara terampil akan memberikan manfaat pengetahuan yang luas, kematangan berfikir dan melatih kemampuan pengambilan keputusan yang tepat di masa yang akan datang. Membaca menjadikan siswa melatih kejelian mengambil masalah utama dalam bacaan dan melatih kesabaran dan fokus dalam masalah. PQ4R merupakan strategi yang paling banyak dikenal untuk membantu siswa memahami dan mengingatkan materi yang mereka baca. 14 Menurut Thomas dan Robinson (1972) langkah-langkah yang dilakukan dalam strategi membaca PQ4R adalah sebagai berikut : 1. Preview (membaca selintas) Memberikan bacaan kepada siswa untuk dibaca. Siswa membaca sekilas dengan cepat sebelum memulai membaca bahan bacaan siswa. Membaca sekilas ini bertujuan untuk menemukan ide pokok/tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Strategi belajar yang digunakan bertujuan agar siswa dapat memahami materi dengan baik. Untuk itu diperlukan persiapan yang matang dalam perencanaannya sehingga siswa dapat memahami materi pada pembelajaran lebih lanjut pada tingkatan yang lebih tinggi. Jadi, tidak ada lagi pembedaan anatara materi pelajaran yang penting dan tidak penting karena keseluruhannya memiliki hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Guru memberikan informasi cara siswa dapat menemukan ide pokok/tujuan pembelajaran yang berada dalam materi bacaan. 2. Question (pertanyaan) Mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada diri sendiri untuk setiap ide pokok yang ada pada bahan bacaan siswa. Awali pertanyaan dengan menggunakan kata”apa, siapa, mengapa dan bagaiamana”. Langkah berikutnya siswa menjawab sendiri pertanyaan-pertanyaan yang telah dibuatnya. Ini bertujuan untuk menyadarkan siswa untuk lebih seksama dalam membaca agar tidak terjadi 15 kekeliruan dalam menentukan ide pokok/tujuan yang telah diinformasikan dari awal sehingga siswa mampu mengingat secara baik materi pelajaran yang telah dibaca sebelumnya 3. Read (membaca) Baca secara aktif, yaitu dengan cara bacaan membawa reaksi pada pikiran siswa. Siswa diminta untuk memberi tanggapan pada materi yang dibacanya. 4. Reflect (merefleksi) Selama membaca, siswa tidak hanya cukup mengingat atau menghafal, siswa juga diminta untuk memecahkan masalah yang timbul dengan mandiri yang dibantu dengan informasi yang diberikan guru. Menurut Trianto S.Pd, M.Pd setelah siswa memahami informasi kemudian akan dipresentasikan dengan cara : 1). Menghubungkan informasi ini dengan hal-hal yang telah diketahui. 2). Mengaitkan sub topik-subtopik di dalam teks dengan konsep-konsep atau prinsip-prinsip utama 3). Mencoba memecahkan kontradiksi di dalam informasi yang disajikan 4). Menggunakan materi itu untuk memecahkan masalah-masalah yang disimulasikan dan dianjurkan dari materi pelajaran tersebut. 5. Recite (menjawab pertanyaan) 16 Langkah kelima, siswa diminta untuk merenung (mengingat) kembali informasi yang telah dipelajari dengan menyatakan butir-butir penting dengan pertanyaan. Siswa dapat melihat kembali catatan yang telah dibuat dan menggunakan kata-kata yang ditonjolkan bacaan. 6. Review (mengulangi) Langkah terakhir siswa diminta untuk membaca catatan singkat (intisari) yang telah dibuatnya, mengulang kembali seluruh bacaan bila perlu dan sekali lagi jawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Metode-metode belajar yang tepat akan membangkitkan minat anak didik untuk membaca. Lemahnya minat siswa untuk membaca mengakibatkan kemerosotan pada kompetensi dan prestasi yang dicapai. Metode belajar membantu siswa untuk memahami kesulitan membaca buku materi dengan cara-cara yang mudah dimengerti oleh siswa. Penyampaian informasi yang demikian jika dilakukan dengan cara kovensional akan selalu menjemukan dan memberikan dampak tidak menyenangkan, membosankan dan dianggap tidak penting. Kesulitan siswa dalam membaca materi pelajaran dapat disebabkan oleh tujuan dan kata kunci yang menjadi capaian belajar yang tidak dimengerti atau bahkan tidak diketahui oleh siswa. Selain hal tersebut juga disebabkan kemampuan awal siswa mengetahui materi yang akan disajikan. Penting bagi guru untuk memberikan arah dan cara baca yang jelas dan mudah dipahami siswa untuk kelancaran pemahaman informasi baru sehingga siswa tidak memiliki pemahaman yang ambigu. 17 Berikut merupakan Langkah-langkah model pembelajaran PQ4R : Tabel 2.1: Langkah-langkah model pembelajaran PQ4R Langkah-langkah Guru Siswa Preview a. Menberi bahan Membaca sekilas bacaan siswa untuk dengan cepat untuk dibaca menemukan ide pokok b. Menginformasikan pada siswa cara yang hendak dicapai menemukan ide pokok Question a. Menginformasikan a. Memperhatikan pada siswa untuk penjelasan guru. memperhatikan makna bacaan. b. Memberi tugas siswa b. Menjawab untuk membuat pertanyaan yang pertanyaan dari ide telah dibuat. pokok yang ditemukan Read Memberi tugas siswa Membaca secara aktif untuk membaca dan sambil memberikan menjawab pertanyaan tanggapan pada bacaan yang telah disusun sebelumnya. dan menjawab pertannyaan yang dibuat Reflect Menginformasikan materi Bukan hanya menghafal yang ada dalam bacaan dan mengingat materi pelajaran tapi mencoba memecahkan masalah 18 bersumber informasi guru dan bacaan Recite Meminta siswa membuat a. Menanyakan dan rangkuman dari seluruh menjawab pembahasan yang pertanyaan. dipelajari satu hari. b. Melihat rangkuman yang dibuat. c. Membuat rangkuman seluruh materi satu hari. Review a. Menugaskan siswa a. Membaca intisari membaca rangkuman yang dibuat. yang dibuat dari b. Membaca kembali rincian ide pokok yang ada dibenak bahan bacaan jika siswa. belum yakin akan b. Meminta siswa jawaban yang dibuat. membaca kembali bahan bacaan, jika belum yakin jawabannya. Sumber : Trianto,S.Pd,M.Pd (2007 : 150). Pembelajaran dengan penerapan strategi-strategi belajar berpedoman pada premis, bahwa keberhasilan siswa banyak bergantung kepada kemahiran mereka untuk belajar sendiri dan untuk memonitor belajarnya sendiri(Trianto S.Pd, M.Pd, 2007 : 152). 19 Langkah-langkah penerapan pembelajaran strategi belajar PQ4R yang dilakukan oleh guru sebagai berikut : Tabel 2.2 :Penerapan strategi PQ4R No Aktivitas Guru Aktivitas I PENDAHULUAN a. Menyampaikan tujuan a.Dalam pelaksanaan KBM guru pembelajaran. menginformasikan tujuan pembelajaran b. Mengaitkan pelajaran secara lisan, dan menuliskan TPK yang yang akan dipelajari akan dicapai. dengan pengetahuan awal b.Guru mengingatkan kembali materi- siswa materi sebelumnya yang relevan c. Memotivasi siswa dengan materi yang akan disampaikan. c.Guru memotivasi siswa dengan memperlihatkan fenomena tervisualisasi. II KEGIATAN INTI a. Mempresentasikan materi. a.Sebelum pelaksanaan pengajaran b.Permodelan strategi strategi belajar, guru mempresentasikan belajar metode PQ4R sedikit gambaran umum dari materi c.Pemberian latihan yang akan dipelajari. terbimbing b. Guru memodelkan keterampilan d.Umpan balik strategi belajar metode PQ4R langkah e.Pemberian latihan per langkah pada tiap-tiap tahapnya, mandiri. dengan memakai sedikit materi dari bacaan. c.Siswa di bawah bimbingan guru melakukan keterampilan strategi belajar PQ4R dengan mengerjakan Kertas Kerja Siswa. d.Pada tahap umpan balik, guru 20 memberikan beberapa pertanyaan kepada siswa untuk mereka jawab. Guru menunjuk beberapa siswa. e.Guru memberikan latihan mandiri kepada siswa untuk membaca kelanjutan dari isi bacaan pada buku siswa dengan memakai keterampilan strategi belajar metode PQ4R. III PENUTUP Guru bersama-sama dengan siswa a.Merangkum pelajaran merangkum materi pelajaran dengan cara b. Catatan membaca kesimpulan yang telah dibuat secara klasikal. a.Guru selama KBM jangan membuat kesan monoton b.Guru hendaknya menentukan waktu, kapan tiap-tiap tahap dilaksanakan. c.Tetap mempertahankan motivasi siswa. d.Guru hendaknya memakai kata-kata yang mudah dipahami siswa. e.Guru hendaknya membimbing siswa satu per satu pada saat melakukan pelatihan Sumber : Trianto,S.Pd,M.Pd (2007 : 150). 2. PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Konsep pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang sengaja dikelola untuk dimungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu pembelajaran merupakan subjek khusus dari pendidikan. 21 Pembelajaran adalah upaya pengembangan seluruh kepribadian individu, baik segi fisik maupun psikis. Dalam proses belajar di sekolah sasaran belajar ini sering dirumuskan dalam bentuk tujuan pembelajaran (Nana Syaodih Sukmadinata, 2007 : 178). Pengertian Pendidikan Agama Islam yaitu memberikan segala macam ilmu kepada anak didik yang belum mereka ketahui serta mendidik akhlak dan jiwa mereka. Menanamkan rasa fadhilah (keutamaan), membiasakan mereka dengan kesopanan tinggi, mempersiapkan mereka untuk suatu kehidupan yang suci seluruhnya ikhlas dan jujur(Athiyah Al-Abrasy, 1970 :15). Jadi, Pendidikan Agama Islam adalah suatu bimbingan yang dilakukan dengan sengaja oleh guru kepada anak siswa menuju ke arah kedewasaan jasmani dan rohani yang berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi guna terbentuknnya pribadi muslim sejati. Pendidikan Islam adalah membimbing dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan peserta didik dari tahap ke tahap kehidupannya sampai mencapai titik kemampuan optimal (Dr. Al-Rasyidin, MA dan Dr. H. Samsul Nizar, MA, 2005 :32). Visi dan misi Pendidikan Agama Islam di sekolah umum adalah terbentuknya peserta didik yang memiliki kepribadian yang dilandasi keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Serta tertanamnya nilai-nilai akhlak yang mulia dan budi pekerti yang kokoh yang tercermin dalam keseluruhan sikap dan perlaku sehari-hari, untuk selanjutnya memberi corak bagi pembentukan watak bangsa (Departemen Agama, 2001 : 2). 22 Pembelajaran Agama Islam harusnya mengikuti metode-metode yang terus berkembang dalam dunia pendidikan secara luas. Bila pembelajaran Agama Islam masih terpaku dalam metode konvensional, lama kelamaan anak didik akan menganggap tak ubahnya dengan sebuah mata pelajaran formalitas yang wajib untuk diikuti. Padahal inti dari Pendidikan agama Islam yaitu penerapan dalam kehidupan tiap anak didik dalam kesehariannya. Kesimpulan sementara jika Pendidikan Agama Islam dilaksanakan dengan baik maka tatanan kehidupan dan kualitas hidup manusia juga jauh lebih baik. Menjadi sebuah polemik jika dilihat Pendidikan Agama Islam belum dapat menggiring masyarakat ke arah tersebut. Sebagaimana fungsi dan tugas Pendidikan Agama Islam yaitu pendidikan manusia seutuhnya dan berlangsung sepanjang hayat. Pengendalian mutu Pendidikan Agama Islam dilaksanakan dalam upaya untuk dapat mengontrol pelaksanaan Pendidikan Agama Islam dengan formula-formula yang fixed sehingga dapat dijadikan standar untuk keberhasilan pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di sekolah umum( Departemen Agama, 2001 : 50 ). Diharapkan dengan pengelolaan formula-formula yang tepat baik dari in put, proses dan out put nya diharapkan dapat dijadikan sarana kontrol dalam keberhasilan pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Kendali mutu in put berdasarkan dari peserta didik, instrumen pembelajaran dan instrumen penunjang. Kendali mutu proses yang berdasarkan proses pendidikan baik intra 23 kurikuler maupun ekstra kurikuler yang distandarisasi mulai dari elemen penunjang pembelajaran dan ketika pembelajaran sedang berlangsung. Kendali mutu out put berdasarkan dari kualitas lulusan setiap satuan pendidikan yang harus sesuai dengan harapan atau ekspektasi yang memenuhi kompetensi dasar pendidikan agama Islam yang menjadi visi Pendidikan Agama Islam di sekolah umum(Departemen Agama, 2001 : 50). Ada beberapa kendala yang terjadi dalam Pendidikan Agama Islam di kawasan sekolah umum, antara lain : 1. Alokasi waktu belajar yang ditetapkan 2 kali jam pelajaran per minggu. 2. Materi yang terlalu banyak, mulai dari pemahaman norma agama sampai pada penghayatan pengamalan dan pengalaman religi. 3. Materi Pendidikan Agama Islam termasuk bahan ajar akhlak, lebih terfokus pada pengayaan pengetahuan (kognitif) dan minim dalam pembentukan sikap (afektif) serta pembiasaan (psikomotor). (DR. Dasim Budimansyah, 2003 : 3). Siswa mengenal materi ketuhanan berdasarkan firman yang ada didalam Al-Qur’an. Minat dan kecintaan siswa terhadap kitab sucinya berawal dari kemampuan siswa mengetahui dan mendalami isinya. Kemampuan siswa kemudian berlanjut pada penguasaan materi lain karena inti dari keseluruhan pengajaran Pendidikan Agama Islam bermuara pada pedoman dasarnya yaitu Al-Qur’an. 24 Hasil dari pembelajaran Pendidikan Agama Islam ini tidak saja sulit untuk dilihat didalam kehidupan sehari-hari pada diri siswa karena kegiatan pembelajaran disekolah memiliki tenggat waktu yang sedikit. Untuk mengetahui implementasi sikap dan budi pekerti yang luhur pada diri anak ada beberapa indikasi yang dapat guru amati di saat siswa mengikuti pembelajaran disekolah dengan rancangan-rancangan yang telah ditetapkan sebelumnya. Salah satunya dengan mengukur kemampuan siswa pada komponen pokok yang ditetapkan pada tiap-tiap jenjang pendidikan. Pada SMP dalam hal ini pembelajaran Pendidikan Agama Islam di kalangan umum ada beberapa komponen pokok yang dapat dijadikan standar pengamatan (Tim, Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 2001a : 9) yaitu : 1. Beriman kepada Allah SWT dan 5 rukun iman lainnya dengan mengetahui fungsi iman terhadap 6 pilar rukun iman yang terefleksi pada perilaku siswa. 2. Dapat membaca, menulis dan memahami ayat Al-Qur’an serta mengetahui hukum bacaannya sehingga dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. 3. Beribadah dengan baik sesuai dengan tuntunan syari’at Islam baik ibadah wajib maupun ibadah sunnah. 4. Dapat menauladani sifat, sikap dan kepribadian Rosulullah, sahabat, tabi’in yang senantiasa relevan dengan kehidupan kontemporer. 25 5. Mempraktekkan sistem muamalah Islam dalam kehidupan sehari-hari. Dari pedoman diatas diharapkan guru dapat memformulasikan inti sari keagamanan yang diwujudkan dalam pembelajaran pada siswa. Penjabaran tentang perwujudan keimanan yang riil dan simpel, contoh yang lugas dan aplikasi peribadahan yang jelas bagi siswa dalam pembelajaran yang menjadi sangat penting sebagai barometer tata cara menjalani kehidupan dunia yang bisa jadi sia-sia dikarenakan ketidakjelasan dalam penyampaiannya. Standar kompetensi yang ditransformasikan dalam kurikulum satuan pendidikan SMP Negeri I Bulu untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam kelas VII pada semester II adalah sebagai berikut : Tabel 2.3 : Satuan Pendidikan Agama Islam kelas VII No Standar Kompetensi Kompetensi Dasar 1. Menerapkan hukum 1.1. Menjelaskan hukum bacaan bacaan Nun Mati/tanwin Nun mati/tanwin. dan mim mati 1.2. Menjelaskan hukum bacaan Mim mati. 1.3. Menerapkan bacaan Nun Mati/Tanwin dan Mim Mati dalam bacaan Al-Qur’an. 2. Siswa beiman kepada 2.1. Menjelaskan pengertian iman malaikat Allah dan kepada malaikat Allah. mengetahui tugas- 2.2. Menyebutkan nama-nama tugasnya. malaikat dan tugas-tugasnya. 2.3. Menjelaskan sifat malaikat Allah. 26 2.4. Menjelaskan perbedaan malaikat dengan makhluk ghib lainnya. 3 Siswa bersikap kerja keras, 3.1. Menjelaskan arti kerja keras, tekun, ulet dan teliti tekun, ulet dan teliti. 3.2. Menampilkan contoh perilaku kerja keras, tekun, ulet dan teliti. 3.3. Membiasakan perilaku kerja keras, tekun, ulet dan teliti. 4 Siswa melakukan sholat 4.1. Menjelaskan, hukum, syarat Jum’at wajib dan syarat syah nya mendirikan sholat Jum’at serta sunah-synah dan hal-hal yang menghalangi dengan sholat jum’at. 4.2. Menunjukkan fungsi sholat Jum’at dalam kehidupan. 4.3. Mempraktekkan sholat Jum’at. 5 Siswa melakukan shalat 5.1 Menjelaskan shalat Jama’ dan jama’ dan qasar Qasar serta sebab-sebabnya. 5.2 Menjelaskan shalat-shalat yang boleh dijama’ dan diqasar. 5.3 Menjelaskan shalat Jama’ takdim dan Jama’ ta’khir. 5.4 Mempraktekkan shalat Jama’ dan Qasar. 6 Memahami tata cara sholat 6.1. Menjelaskan ketentuan- wajib ketentuan sholat wajib. 6.2. Mempraktikkan sholat wajib 7 Memahami sejarah Nabi 7.1. Menjelaskan misi Nabi 27 Muhammad SAW Muhammad saw untuk menyempurnakan akhlak, membangun manusia mulia dan bermanfaat. 7.2. Menjelaskan misi Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi alam semesta, pembawa kedamaian, kesejahteraan dan kemajuan masyarakat. 7.3. Meneladani perjuangan nabi Muhammad saw dan para sahabat dalam menghadapi masyarakat Makkah. Sumber : Pengembangan KTSP PAI Pendidikan Agama Islam kaitannya dengan penuntasan penilaian kognitif diamati dari penguasaan siswa pada bahan materi yang telah ditentukan dalam kompetensi dan kemampuan dalam aplikasinya pada cara baca Al-Qur’an. Tinggi rendahnya ketuntasan siswa dalam Pendidikan Agama Islam salah satu bagian pentingnya adalah kelancaran dan penguasaan siswa pada bacaan Al-Qur’annya. Karena didalam Pendidikan Agama Islam terdapat doktrin-doktrin yang telah ditetapkan untuk dijalankan yang bersumber dari Al-Qur’an. Jadi siswa yang memiliki kemampuan rendah dalam membaca Al-Qur’an akan menemui kesulitan yang berarti dalam mendalami isi materi. Pedoman guru Pendidikan Agama Islam selama ini mencakup beberapa metode mengajar, antara lain yaitu : 28 1. Metode Hiwar, dialog atau diskusi sebuah tema untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan. 2. Metode Kisah, metode cerita kisah utusan Allah dan orang-orang sholeh. 3. Metode Amtsal, memberikan contoh kongkrit yang dilakukan sehari-hari. 4. Metode Teladan, kegiatan rutin yang dilakukan saat guru mengajar (pengulangan). 5. Metode Ibrah dan Mauziah, mengambil hikmah dari kejadian disekitar lingkungan agar dapat dijadikan pelajaran hidup. 6. Metode Targhib dan Tahrib, metode yang mengambil dari keadaan dasar manusia yang menginginkan rasa senang dan menghindari kesusahan. Pribadi seorang guru Pendidikan Agama Islam juga menjadi dasar keberhasilan dalam pembelajarannya. Perlakuan dan tindak tanduk guru Pendidikan Agama Islam biasanya menjadi contoh kongkrit bagi siswa untuk melaksanakan bahan ajar Pendidikan Agama Islam dikehidupan siswa sehari-hari. Untuk itu guru Pendidikan Agama Islam juga harus memiliki kriteria sebagai berikut : 1. Zuhud tidak mengutamakan materi dan mengajar sebagai sarana ibadah. 2. Guru harus bersih fisik dan mental. Menjaga kerapian pakaiannya dan mengindari dari perbuatan yang tercela. 29 3. Ikhlas dalam bekerja. 4. Pemaaf dan mencintai siswanya. 5. Mengetahui sifat siswanya. 6. Menguasai bahan materi pelajaran. Selain dari sumber daya guru, untuk mencapai tujuan pembelajaran Pendidikan Agama Islam juga memiliki fasilitas kegiatan dan laboratorium keagamaan yang memadai. Penting bagi pembelajaran pendidikan Agama Islam memiliki fasilitas belajar sebagai sentra dalam pembelajaran dan pengembangan pengetahuan yang dimiliki siswa. Diantaranya adalah masjid atau mushola sekolah sebagai basis sisiwa untuk sholat berjamaah, baca tulis Al-Qur’an, pelatihan khotib dan pemceramah dan penyempurnaan kegiatan ibadah seperti sholat dan sebagainya. Disamping itu, pembelajaran pendidikan Agama Islam memiliki laboratorium keagamaan, Penyuluhan keagamaan dan akses Internet. Laboratorium keagamaan yang dimaksudkan adalah suatu ruang yang berisi alat praktek keagamaan, misalnya miniatur ka’bah, pakaian ihrom, kain kafan dan sebagainya sebagai penunjang praktek keagamaan. Sedangkan akses internet diperlukan untuk pengembangan informasi siswa tentang keislaman dalam jangkauan yang lebih luas. Sistem evaluasi Pendidikan Islam mengacu pada sistem evaluasi yang digariskan Al-Qur’an . tujuan evaluasi ditik beratkan pada aspek pada penguasaan sikap (afektif dan psikomotorik) yang bertujuan untuk 30 mengetahui kemampuan peserta didik yang secara garis besarnya meliputi 4 hal, yaitu : 1. Sikap dan pengalaman pribadi siswa terhadap Tuhannya. 2. Sikap dan pengalaman siswa dengan masyarakatnya. 3. Sikap dan pengalaman terhadap arti hubungan kehidupannya dengan alam sekitar. 4. Sikap dan pandangan terhadap diri sendiri selaku hamba Allah, anggota masyarakat, serta khalifah Allah. (Dr. Al-Rasyidin, MA dan Dr. H. Samsul Nizar, MA, 2005 :80). Seluruh kemampuan yang akan dievaluasikan mengacu pada Al-Qur’an dan Hadist sesuai dengan tata aturan evaluasi pendidikan Islam. 3. PRESTASI SISWA Belajar menurut pendapat tradisional adalah menambah dan mengumpulkan sejumlah pengetahuan. Disini yang dipentingkan adalah pendidikan intelektual (Drs. H. Abu Ahmadi, 2002 : 279). Belajar menurut Gagne tidak merupakan sesuatu yang terjadi secara alamiah, tetapi hanya akan terjadi dengan adanya kondisi-kondisi tertentu, yaitu : 1. Internal ; yang antara lain menyangkut kesiapan siswa dan apa yang telah dipelajari sebelumnya ( prerequisite ). 31 2. Eksternal ; yang merupakan situasi belajar dan penyajian stimuli yang secara sengaja diatur oleh guru dengan tujuan memperlancar proses belajar. Belajar adalah berusaha mengatasi hambatan-hambatan untuk mencapai tujuan (Nana Syaodih Sukmadinata, 2007 : 172). Inti dari belajar adalah proses mengenal dan menerima informasi baik yang baru dikenal maupun yang telah lama diketahui untuk dimengerti dan dikembangkan menjadi pola pikir dan perilaku yang lebih baik bagi siswa. Siswa diharapkan dapat mencapai tujuan yang direncanakan sebelumnya. Guru membuat rencana belajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa sehingga siswa mampu menguasai bahan bacaan dengan baik sehingga dapat mencapai hasil belajar yang baik dari segi kognitif, afektif maupun psikomotoriknya. Prestasi merupakan hasil yang dicapai oleh seseorang setelah melakukan pekerjaan tertentu. Dan, belajar yaitu proses perubahan seseorang baik secara formal, fungsional, material dan intelektualitas di dalam hidupnya melalui pengalaman-pengalaman yang diberikan baik dari lingkungannya maupun dari guru, trainer, dosen atau yang lainnya. Jadi, prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai oleh seseorang dalam proses pembelajaran yang telah dilaksanakan pada beberapa jarak waktu sehingga mewujudkan manusia yang mempunyai kematangan intelektual dan perilaku yang lebih baik. 32 Hasil belajar yang dicapai adalah perubahan-perubahan dalam jiwa seperti memperoleh pengertian tentang bahasa, bersikap susila dan sebagainya (Drs. H. Abu Ahmadi, 2002 : 279). Untuk membantu siswa menetapkan tujuan belajar agar pola membacanya dapat memberikan manfaat pada dirinya, guru diharapkan untuk selalu membimbing dan mengawasi serta memberi batasan masalah yang jelas pada materi yang dikaji. Langkah-langkahnya seperti yang dikemukakan oleh Prof. Haris Mudjiman berikut : 1.Harus membantu siswa menganalisis tugas 2.Harus membantu siswa menggali pengetahuan dan kompetensi apa yang telah dan belum dimiliki untuk menjalankan tugas dari guru. 3.Harus membantu menetapkan langkah-langkah langah-langkah belajar 4.Harus memantau pelaksanaan pembelajarannya. Tiap-tiap jenis hasil belajar tersebut memerlukan kondisi-kondisi tertentu yang perlu diatur dan dikontrol ( Dr.Toeti Soekamto dkk 1992 : 33). Peran strategi belajar dalam kelas sebagai alat atur dan alat kontrol materi dan pengayaan bagi siswa. Sehingga siswa mampu mendapat pengertian yang sesuai dan pendalaman materi yang mantap sesuai tujuan dalam kompetensi yang disusun. Kreativitas guru dalam memberikan pengertian melalui pola strategi belajar yang sesuai diharapkan juga mamu menumbahkan minat dari siswa untuk mempelajari materi lebih jauh. 33 Untuk mencapai hasil yang diharapkan ada beberapa prinsip belajar yang dapat dijadikan pedoman dan teknik belajar yang baik, antara lain : 1. Belajar harus bertujuan dan terarah. 2. Belajar memerlukan bimbingan. 3. Belajar memerlukan pemahaman atas hal-hal yang dipelajari sehingga diperoleh pengertian-pengertian. 4.Belajar memerlukan latihan dan ulangan agar apa-apa yang telah dipelajari dapat dikuasainya. 5.Belajar adalah suatu proses aktif. 6.Belajar dilandasi kemauan dan keinginan kuat. 7.Belajar dianggap berhasil jika telah diterapkan sehari-hari. (Drs.H.Abu Ahmadi, 2002 : 282). Prestasi belajar yaitu hasil yang dicapai siswa dalam penguasaan materi yang telah disampaikan dengan melakukan tes yang dibuat oleh peneliti. Untuk memperoleh prestasi belajar yang memuaskan harus dilakukan dengan cara dan pedoman belajar yang berbeda antar individu. Ini disebabkan karena cara atau pedoman belajar akan mengahasilkan output yang berbeda pada tiap siswa karena memiliki perbedaan daya tangkap, kemampuan, kecepatan, ketepatan dan kepekaan dalam menerima meteri pelajaran. Untuk itu guru perlu untuk menentukan strategi belajar yang tepat pada siswanya dengan terlebih dahulu melakukan pengamatan akan kebutuhan siswa. 34 Hasil belajar merupakan realisasi atau pemekaran kecakapan-kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang (Nana Syaodih Sukmadinata, 2007a : 102). Penilaian hasil belajar mencakup seluruh aspek pembelajaran yang telah dilaksanakan sebelumnya. Hasil belajar ditinjau dari segi kognitif, penguasaan siswa terhadap bahan ajar yang diinformasikan dari guru, segi afektif yaitu dari pola perilaku yang ditunjukkan siswa di sekolah yang menunjukkan perilaku yang telah menjadi tujuan sebelum adanya pembelajaran. Dan Psikomotorik yang meliputi keterampilan siswa dalam memperagakan praktek pembelajaran yang telah disampaikan. Penguasaan hasil belajar oleh seseorang dapat dilihat dari perilakunya, baik perilaku dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan berpikir maupun keterampilan motorik. (Nana Syaodih Sukmadinata, 2007a : 103). Pada dasarnya prestasi belajar adalah semua materi ajar yang dapat diaplikasikan siswa dalam kehidupannya sehari-hari. Tetapi guru juga perlu untuk mengetahui sejauh mana siswa memahami konsep yang telah diajarkan. Maka, prestasi belajar juga dapat diukur melalui pengangkaan dengan standar yang dimiliki guru. Kemampuan siswa dapat diketahui pada skor yang tercipta dari uji tes yang diberikan oleh guru. Demikian juga guru dapat mengukur diri seberapa berhasil metode yang diterapkannya pada siswa sehingga guru dapat menemukan strategi belajar yang baik bagi siswanya. 35 Menurut Usman dalam buku Evaluasi pembelajaran oleh Drs.Asep Jihad dan Dr,Abdul Haris, Msc, penilaian hasil belajar yang ditentukan oleh guru dipetakan oleh Benjamin Bloom, antara lain : 1. Domain Kognitif Domain kogninif meliputi pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisa, sintesa dan evaluasi. 2. Domain Afektif Domain afektif mengacu pada ranah menerima atau memperhatikan, merespon, penghargaan, pengorganisasian dan watak. 3. Domain Psikomotorik Domain psikomotorik meliputi menirukan, memanipulasi, presisi, artikulasi dan naturalisasi. Faktor yang mempengaruhi hasil belajar berasal dari beberapa sebab. Faktor yang terdapat dalam diri siswa antara lain yaitu kemampuan siswa dalam penguasaan bahan materi. Sebab lainnya yaitu motivasi belajar, minat belajar, perhatian orang tua, ketekunan, perilaku belajar, fisik siswa dan sebab psikis lain yang mempengaruhi belajar siswa. Kemampuan siswa untuk mengontrol sebab-sebab dari dalam dirinya dapat memberikan hasil baik bagi penguasaan bahan materi ajar. Faktor dari luar yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa antara lain lingkungan. Dalam hal ini lingkungan belajar yaitu sekolah fasilitas, keamanan dan kualitas pengajaran sangat menentukan hasil 36 belajar siswa. Pada intinya keberhasilan belajar dipengaruhi atas dua hal, kapasitas siswa untuk penguasaan materi dan kualitas sekolah sebagai lingkungan belajar. Melalui strategi belajar yang tepat akan membantu siswa untuk mudah mengerti dan meningkatkan prestasi siswa. Untuk meningkatkan prestasi belajar perlu disusun berbagai cara agar dapat menemukan strategi belajar yang cocok digunakan untuk siswa. Dalam pembelajaran apapun, sangat perlu menjadikan siswa aktif sehingga materi belajar akan lebih berkembang dan menjadi bahan yang komprehensif bagi siswa dalam kesehariannya. Berdasarkan Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan (KTSP) SMP Negeri I Bulu, pencapaian prestasi belajar Pendidikan Agama Islam diwujudkan dalam Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebagai berikut : Kriteria Ketuntasan Minimal PAI Tabel 2.4 : KKM PAI SMP Negeri 1 Bulu No Kelas Semester I Semester II 1 Kelas VII 70 70 2 Kelas VIII 70 70 3 Kelas IX 7,1 7,1 Sumber : Ketetapan nilai KKM SMP N 1 Bulu Dari uraian diatas peneliti menerapkan strategi belajar PQ4R di kelas VII semester 2 pada standar kompetensi Nun mati/tanwin dan mim mati.. Indikator keberhasilan belajar dapat dilihat dari : 37 1. Daya serap terhadap bahan pengejaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi, baik secara individu maupun kelompok. 2. Perilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran telah dicapai oleh siswa, baik secara individual maupu kelompok. (Drs. Syaiful Bahri Djamarah dan Drs. Aswan Zain, 2002 :120) Untuk mengukur tingkat keberhasilan pada pembelajaran tiap bab dalam materi dapat pula dilihat menggunakan tes prestasi belajar. Tes prestasi belajar yang digunakan dalam pembelajaran tiap bab disebut dengan tes formatif yang dilaksanakan mandiri oleh tiap guru mata pelajaran. Hasil tes ini digunakan untuk memperbaiki proses belajar mengajar bahan tertentu dalam waktu tertentu. (Drs. Syaiful Bahri Djamarah dan Drs. Aswan Zain, 2002 :120). Rangkaian terakhir yang menentukan hasil belajar yaitu evaluasi belajar. Mehrens & Lehmann dalam Ngalim Purwanto menyebutkan bahwa evaluasi adalah suatu proses merencanakan, memperoleh dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk mebuat alternatif-alternatif keputusan. Informasi yang didapat dari evaluasi menjadi timbal balik yang berguna bagi siswa untuk mengetahui sejauh mana dapat menguasai materi, guru untuk mengetahui baik tidaknya strategi mengajar dan butir-butir evaluasi yang diberikan dan pihak institusi untuk merekap dan menggambarkan mutu yang telah dihasilkan dalam proses belajar mengajar dalam satu periode pembelajaran. 38 Evaluasi pembelajaran ditentukan oleh indikator-indikator yang ada di dalam tiap-tiap mata pelajaran. Untuk mata pelajaran agama sistem evaluasi dapat dikelompokkan menjadi beberapa aspek, antara lain : 4. Kemampuan untuk mengembangkan konsep dan nilai-nilai kehidupan beragama. 5. Kemampuan untuk menerapkan konsep dan nilai-nilai kehidupan beragama termasuk akhlak mulia, budi pekerti atau moral sebagai perwujudan dari pendidika agama melalui praktik atau pengalaman belajar serta pengamatan aktivitas peserta didik (Drs. Asep Jihad & Dr. Abdul Haris, 2008 : 146). 4. MINAT BACA AL-QUR’AN Dorongan yang berasal pada diri tiap individu untuk melakukan hal yang disukai. Jadi, minat belajar adalah dorongan atau motivasi yang terbentuk pada siswa terhadap bidang studi yang dipelajarinya. Minat belajar muncul dapat dengan sendirinya atau melalui rangsangan pada siswa terhadap bidang studi tertentu yang dikemas secara menarik sehingga siswa dapat mempelajarinya dan dengan mudah memahaminya karena ketertarikan siswa yang telah menganggap bidang studi tersebut mempunyai kelebihan dan kesenangan untuk dapat dipelajari. Salah satu aspek mental yang sangat berpengaruh pada seseorang yang menjadi salah satu penentu keberhasilan harapan. Minat merupakan satu rangsangan untuk melaksanakan suatu perilaku yang mengingikan 39 tujuan tertentu. Perasaan senang, ketertarikan pada sesuatu, kesukaan akan menjadi pemicu munculnya minat yang tumbuh dalam diri jiwa seseorang. 1. Perasaan senang. Kekuatan pendorong atau stimulus yang menggerakkan seseorang untuk mengerjakannya secara teratur dan penuh ketekunan yang membantu siswa untuk mengatur segala kegiatannya untuk mencapai tujuan kompetensi tersebut. 2. Ketertarikan. Perhatian yang ditujukan oleh objek karena suatu sebab, dapat berupa sesuatu yang estetik atau keindahan atau daya manfaat yang terdapat dalam objek sehingga siswa dengan suka hati mampu tergerak untuk melakukan sesuatu sesuai dengan prosedur yang dibuat objek. berlanjut pada keingintahuan seseorang untuk mempelajari dan mendalami untuk mencapai peningkatan kemampuan.. 3. Kesukaan. Kecenderungan hati pada seseorang atau sesuatu yang menarik hatinya. Kebutuhan untuk selalu menekuni objek yang sedang dikerjakan dan membuat karya yang lebih bernilai sesuai dengan keinginan dan harapan yang diinginkan siswa. Anak didik adalah makhluk individual. Anak didik adalah orang yang mempunyai kepribadian dengan ciri-ciri yang khas sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhannya ( Drs.Syaiful Bahri Djamarah, Drs.Aswin Zain 2002 :161 ). Diperlukan metode khusus untuk dapat 40 menumbuhkan minat bagi siswa yang belum dapat mengembangkan atau yang belum memiliki keinginan tertentu. Metode, media dan proses belajar mengajar menjadi jalan pembuka bagi siswa untuk tahu minat dan pengembangan diri yang akan ditekuninya. Guru perlu tahu latar belakang kehidupan siswa karena dari sana guru dapat mendeteksi kemana arah minat siswa. Minat merupakan sesuatu yang menyenangkan bagi siswa dapat berupa kegemaran yang telah dimiliki atau penemuan baru bagi siswa. Sehingga pendekatan dengan realitas latar belakang siswa jauh dapat lebih menarik dan mengena karena siswa yang menjalani sendiri. Pengalaman anak mengenai bahan pelajaran yang telah diberikan merupakan bahan apresepsi yang dipunyai oleh anak. Bahan apresepsi sangat membantu anak didik dalam usaha mengolah kesan-kesan dari bahan pelajaran yang diberikan oleh guru. Misalnya, dalam Pendidikan Agama Islam pengalaman anak pernah mengikuti kegiatan perlombaan MTQ dapat memacu minat siswa untuk mengetahui lebih lanjut kiat-kiat apa saja mengenai bacaan Al-Quran yang tartil, sesuai dengan makhroj dan tilawah yang dikuasainya. Selain itu, pemanfaatan alat bantu yang berada di sekitar lingkungan siswa yang sebelumnya dianggap tidak diperlukan seperti tape recorder, melalui metode pengajaran yang tepat yang disampaikan oleh guru akan memunculkan pula minat-minat baru yang ingin dikembangkan oleh siswa secara mandiri. 41 Minat juga dapat timbul dari rasa ingin tahu mengenai sesuatu. Rasa ingin tahu yang kemudian menghasilkan pertanyaan apa, bagaimana dan mengapa. Untuk memenuhi rasa ingin tahu seseorang mungkin bertanya pada orang lain yang dianggap lebih mengetahui, mencari melalui berbagai media atau pengamatan secara langsung pada objek. Sehingga pada titik siswa belum meyakini jawaban yang ditemukan akan meningkat pada pencarian pemecahan masalahnya sendiri melalui pengetahuan yang dimiliki dan dari sumber yang mendukung. Bahan belajar yang menarik minat/keinginan anak dapat dipelajari oleh anak dengan sebaik-baiknya. Minat sering timbul bila ada perhatian. Karena itu untuk menimbulkan minat sebaiknya juga harus menimbulkan perhatiannya (Drs.H.Ahmadi, 2002 : 286). Banyak hal yang dapat dilakukan guru untuk menimbulkan minat pada siswa mulai dari strategi belajar, tema yang menarik, manfaat yang diperoleh, selingan humor dan sebagainya. Pemberian materi yang monoton akan menghilangkan minat yang dimiliki siswa sehingga merasa bosan, malas dan keterpaksaan dalam belajar. Siswa mendapat kemampuan untuk menemukan dan menciptakan kreasi yang baru. Siswa akan melihat masalah tidak hanya dari satu sudut pandang saja yang memungkinkan siswa untuk mendalaminya dengan lebih menyeluruh. Siswa mampu menganalisa dan memecahkan masalahnya sendiri. Jika sudah demikian siswa akan dengan sendirinya menjadi peneliti dari minat yang tengah digalinya. Pemunculan minat 42 siswa akan mendorong siswa yang lain tertarik pada riset yang sedang dilakukan pertumbuhan minat antar siswa menjadi sumber kreativitas siswa untuk menganalisa bahan materi ajar yang diberikan. Sama halnya dengan motivasi, minat muncul pada dalam diri siswa sendiri yang berkeinginan untuk mendalami suatu bahan materi ajar. Minat merupakan salah satu pendorong terciptanya kemauan belajar minat atau ketertarikan siswa mengikuti dengan sungguh-sungguh pelajaran yang disampaikan. Reinforcement yang datang dari luar diri siswa menjadi pendukung utama minat yang terus tumbuh didalam diri siswa. Sisi kepuasan mempelajari sesuatu menjadi tujuan utama siswa dalam mengembangkan minatnya. Kepuasan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dimiliki siswa dan tersedianya alternatif jawaban yang memungkinkan siswa dapat berpikir berulang-ulang dan mengkaji sendiri temuan jawaban yang telah dimilikinya. B. Penelitian Yang Relevan 1. Pengaruh Metode Membaca SQ3R Dan Pemanfaatan Jenis Sumber Belajar Terhadap Kreativitas Siswa : Penelitian Eksperimen di Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Tanon Sragen oleh Sudarno NIM S 8101027. 2. Pengaruh Pembelajaran Partisipasif Dan Kemampuan Membaca Al-Qur’an Terhadap Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Pada Siswa SMU Negeri Kabupaten Wonogiri (Studi Eksperimen) oleh Sumarman NIM S 8101041. 43 3. Kontribusi dan perbedaan Pengaruh antara kemampuan Baca Tulis Al-Qur’an , kemampuan Awal dan Sikap terhadap Bahasa Arab Dengan Prestasi Belajar Bahasa Arab Mahasiswa STAIN Surakarta oleh Imam Makruf NIM S 8102008. 4. Model Pembelajaran Pondok Pesantren Sebagai Upaya Pengembangan Nilai Religiusitas (Studi mata Ajar Pendidikan Agama Islam di Pondok Pesantren Imam Syuhodo 2005 / 2006) oleh Sedyoko NIM S8103014. C. Kerangka Berpikir KURIKULUM GURU Gagasan awal : • Kemampuan awal • Minat baca awal • Prestasi awal Rencana Wawancara Meningkatkan strategi belajar minat baca Al- PQ4R Observasi Qur’an Angket Proses Uji tes Meningkatkan Tindakan prestasi siswa 44 Langkah-langkah penelitian : 1. Kurikulum digunakan guru sebagai pedoman materi pelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya melalui Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran. 2. Guru menemukan gagasan awal yang berpedoman pada kemampuan awal, minat baca awal dan prestasi siswa. 3. Gagasan awal yang telah diketahui menjadi data yang digunakan dalam rencana strategi belajar dan proses penelitian tindakan kelas. 4. Selama siklus berlangsung peneliti melakukan observasi langsung pada sisiwa guna menentukan langkah perbaikan selanjutnya dalam rangka peningkatan minat baca Al-Qur’an dan Prestasi siswa. D. Hipotesis Tindakan Adapun Hipotesis Tindakan untuk acuan dalam penelitian ini adalah : 1. Penerapan strategi belajar PQ4R dapat meningkatkan minat baca Al-Qur’an siswa SMP Negeri 1 Bulu Kabupaten Sukoharjo. 2. Penerapan strategi belajar PQ4R dapat meningkatkan prestasi siswa di SMP Negeri 1 Bulu Kabupaten Sukoharjo. 45 PDF to Word

Rabu, 01 Februari 2012

Media Pembelajaran

A. Media Pembelajaran ImagePengertian media mengarah pada sesuatu yang mengantar/meneruskan informasi (pesan) antara sumber (pemberi pesan) dan penerima pesan. Media adalah segala bentuk dan saluran yang dapat digunakan dalam suatu proses penyajian informasi (AECT Task Force,1977:162) ( dalam Latuheru,1988:11). Robert Heinich dkk (1985:6) mengemukakan definisi medium sebagai sesuatu yang membawa informasi antara sumber (source) dan penerima (receiver) informasi. Masih dari sudut pandang yang sama, Kemp dan Dayton (1985:3), mengemukakan bahwa peran media dalam proses komunikasi adalah sebagai alat pengirim (transfer) yang mentransmisikan pesan dari pengirim (sander) kepada penerima pesan atau informasi (receiver). Jerold Kemp (1986) dalam Pribadi (2004:1.4) mengemukakan beberapa faktor yang merupakan karakteristik dari media, antara lain : a. kemampuan dalam menyajikan gambar (presentation) b. faktor ukuran (size); besar atau kecil c. faktor warna (color): hitam putih atau berwarna d. faktor gerak: diam atau bergerak e. faktor bahasa: tertulis atau lisan f. faktor keterkaitan antara gambar dan suara: gambar saja, suara saja, atau gabungan antara gambar dan suara. Selain itu, Jerold Kemp dan Diane K. Dayton (dalam Pribadi,2004:1.5) mengemukakan klasifikasi jenis media sebagai berikut : a. media cetak b. media yang dipamerkan (displayed media) c. overhead transparancy d. rekaman suara e. slide suara dan film strip f. presentasi multi gambar g. video dan film h. pembelajaran berbasis komputer (computer based learning) Istilah media disini dilihat dari segi penggunaan, serta faedah dan fungsi khusus dalam kegiatan/proses belajar mengajar, maka yang digunakan adalah media pembelajaran. Media pembelajaran adalah semua alat (bantu) atau benda yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar, dengan maksud untuk menyampaikan pesan (informasi) pembelajaran dari sumber (guru maupun sumber lain) kepada penerima (dalam hal ini anak didik ataupun warga belajar). Pesan (informasi) yang disampaikan melalui media, dalam bentuk isi atau materi pengajaran itu harus dapat diterima oleh penerima pesan (anak didik), dengan menggunakan salah satu ataupun gabungan beberapa alat indera mereka. Bahkan lebih baik lagi bila seluruh alat indera yang dimiliki mampu dapat menerima isi pesan yang disampaikan (Latuheru,1988:13). Pada umumnya keberadaan media muncul karena keterbatasan kata-kata, waktu, ruang, dan ukuran. Ditambahkan juga bahwa media pembelajaran berfungsi sebagai sarana yang mampu menyampaikan pesan sekaligus mempermudah penerima pesan dalam memahami isi pesan. Dari beberapa penjelasan media pembelajaran di atas, dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah suatu alat, bahan ataupun berbagai macam komponen yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar untuk menyampaikan pesan dari pemberi pesan kepada penerima pesan untuk memudahkan penerima pesan menerima suatu konsep. B. Fungsi dan Peranan Media Pembelajaran Kehadiran media pembelajaran sebagai media antara guru sebagai pengirim informasi dan penerima informasi harus komunikatif, khususnya untuk obyek secara visualisasi. Dalam pembelajaran ilmu pengetahuan alam, khusunya konsep yang berkaitan dengan alam semesta lebih banyak menonjol visualnya, sehingga apabila seseorang hanya mengetahui kata yang mewakili suatu obyek, tetapi tidak mengetahui obyeknya disebut verbalisme. Masing-masing media mempunyai keistimewaan menurut karakteristik siswa. Pemilihan media yang sesuai dengan karakteristik siswa akan lebih membantu keberhasilan pengajar dalam pembelajaran. Secara rinci fungsi media memungkinkan siswa menyaksikan obyek yang ada tetapi sulit untuk dilihat dengan kasat mata melalui perantaraan gambar, potret, slide, dan sejenisnya mengakibatkan siswa memperoleh gambaran yang nyata (Degeng,1999:19). Menurut Gerlach dan Ely (dalam Arsyad,2002:11) ciri media pendidikan yang layak digunakan dalam pembelajaran adalah sebagai berikut : 1. Fiksatif (fixative property) Media pembelajaran mempunyai kemampuan untuk merekam, menyimpan, melestarikan, dan merekonstruksi suatu peristiwa/objek. 2. Manipulatif (manipulatif property) Kejadian yang memakan waktu berhari-hari dapat disajikan kepada siswa dalam waktu dua atau tiga menit dengan teknik pengambilan gambar time-lapse recording. 3. Distributif (distributive property) Memungkinkan berbagai objek ditransportasikan melalui suatu tampilan yang terintegrasi dan secara bersamaan objek dapat menggambarkan kondisi yang sama pada siswa dengan stimulus pengalaman yang relatif sama tentang kejadian itu. Dari penjelasan diatas, disimpulkan bahwa fungsi dari media pembelajaran yaitu media yang mampu menampilkan serangkaian peristiwa secara nyata terjadi dalam waktu lama dan dapat disajikan dalam waktu singkat dan suatu peristiwa yang digambarkan harus mampu mentransfer keadaan sebenarnya, sehingga tidak menimbulkan adanya verbalisme. Proses belajar mengajar dapat berhasil dengan baik jika siswa berinteraksi dengan semua alat inderanya. Guru berupaya menampilkan rangsangan (stimulus) yang dapat diproses dengan berbagai indera. Semakin banyak alat indera yang digunakan untuk menerima dan mengolah informasi, semakin besar pula kemungkinan informasi tersebut dimengerti dan dapat dipertahankan dalam ingatan siswa. Siswa diharapkan akan dapat menerima dan menyerap dengan mudah dan baik pesan-pesan dalam materi yang disajikan. Keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar mengajar sangat penting, karena seperti yang dikemukakan oleh Edgar Dale (dalam Sadiman, dkk,2003:7-8) dalam klasifikasi pengalaman menurut tingkat dari yang paling konkrit ke yang paling abstrak, dimana partisipasi, observasi, dan pengalaman langsung memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap pengalaman belajar yang diterima siswa. Penyampaian suatu konsep pada siswa akan tersampaikan dengan baik jika konsep tersebut mengharuskan siswa terlibat langsung didalamnya bila dibandingkan dengan konsep yang hanya melibatkan siswa untuk mengamati saja. Berdasarkan penjelasan diatas, maka dengan penggunaan media pembelajaran diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih konkret kepada siswa, dan dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran sebagai contoh yaitu media pembelajaran komputer interaktif. C. Teori Pengembangan Media Berkembangnya komunikasi elektronik, membawa perubahan-perubahan besar dalam dunia pendidikan. Satu hal yang harus dihindari yaitu anggapan bahwa kedudukan guru akan digantikan oleh alat elektronik. Dengan keberadaan komunikasi elektronik, menambah pentingnya kehadiran guru. Berubahnya fungsi guru dan peranan guru dikaitkan dengan upaya untuk memecahkan salah satu masalah pendidikan yaitu, (1) dengan membebaskan guru kelas dari kegiatan rutin yang banyak, (2) melengkapi guru dengan teknik-teknik keterampilan kualitas yang paling tinggi, (3) pengembangan penyajian kelas dengan tekanan pada pelayanan perorangan semaksimal mungkin dalam setiap mata pelajaran, (4) mengembangkan pengajaran yang terpilih didasarkan pada kemampuan individual siswa. Dari penjelasan diatas tentang peran baru guru dalam dunia pendidikan diharapkan dapat memperbaiki kualitas pendidikan, sehingga penggunaan berbagai macam media pembelajaran akan menggantikan berberapa fungsi instruksional dari guru (Sulaeman, 1988:24-25). Pengembangan media pembelajaran didasarkan pada 3 model pengembangan yaitu model prosedural, model konseptual, dan model teoritik. Model prosedural merupakan model yang bersifat deskriptif, yaitu menggariskan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan produk. Model konseptual yaitu model yang bersifat analitis yang memerikan komponen-komponen produk yang akan dikembangkan serta keterkaitan antarkomponen. Sedangkan model teoritik adalah model yang menunjukkan hubungan perubahan antar peristiwa. Berdasarkan hal yang dikemukan diatas, pengembangan media berbantuan komputer interaktif yang dikembangkan mengikuti model prosedural dari The ASSURE, dimana langkah yang harus diikuti bersifat deskriptif yang terdiri dari 6 langkah yaitu analisis karakteristik siswa, penetapan tujuan, pemilihan media dan materi, pemanfaatan materi, pengikutsertaan siswa untuk aktif dalam pembelajaran, evaluasi/revisi. Sedangkan model konseptual dari pengembangan media berbantuan komputer ini mengikuti teori belajar behavior yang dikemukakan oleh Gagne yaitu belajar yang dilakukan manusia dapat diatur dan diubah untuk mengembangkan bentuk kelakuan tertentu pada seseorang, atau mempertinggi kemampuan, atau mengubah kelakuannya (Nasution, 1988: 131), sehingga media pembelajaran yang dikembangkan berdasar pada “Programmed Instruction”. Sehubungan dengan penggunaan “Programmed Instruction”sebagai konsep media yang dikembangkan, maka teori belajar yang sesuai dengan karakter dari “Programmed Instruction” adalah teori belajar asosiasi, menyatakan bahwa hubungan antara stimulus dan respon. Hubungan tersebut akan semakin kuat apabila sering diulangi dan respon yang benar diberi pujian atau cara lain yang memberikan rasa puas dan senang (Nasution, 1988: 132).

Membuat Media Pembelajaran Interaktif dengan Piranti Lunak Presentasi

Sampai saat ini media pembelajaran interaktif BIPA belum berkembang dengan optimal di Indonesia. Salah satu kendala pengembangan media pembelajaran interaktif adalah kurang dikuasainya teknologi pengembangan media interaktif oleh para pengajar dan pengelola BIPA di Indonesia. Piranti lunak pengembangan materi pembelajaran yang ada saat ini seperti Course Builder, Visual Basic, atau Dream weaver cukup rumit sehingga hanya dikuasai oleh para pemrogram komputer sedangkan pengelola BIPA pada umumnya hanya menguasai pembelajaran bahasa. Jadi pengembangan materi pembelajaran interaktif dengan komputer kurang optimal. Pengembangan media pembelajaran BIPA interaktif bisa optimal dengan kerjasama antara programer komputer dengan pengelola program BIPA. Yang lebih ideal adalah seorang pengelaloa BIPA menguasai program komputer. Tujuan dari lokakarya ini adalah membuat media pembelajaran BIPA secara mudah, bahkan untuk orang yang buta program komputer sekalipun. Pembuatan media pembelajaran BIPA interaktif ini akan menggunakan piranti lunak presentasi Microsoft Powerpoint 2000, sebuah piranti lunak yang memberikan banyak sekali manfaat bagi pembelajaran bahasa. Dua keuntungan pokok dari piranti lunak ini adalah: (a) tersedia di semua komputer berprogram Microsoft Office; (b) dapat dikembangkan oleh orang yang buta program komputer. Meskipun piranti lunak ini mudah dan sederhana namun dapat memberikan manfaat yang besar bagi pembelajaran bahasa. Piranti lunak ini dapat menampilkan teks, gambar, suara, dan video. Dengan demikian, piranti lunak ini bisa mengakomodasi semua kegiatan pembelajaran bahasa interaktif seperti mendengarkan, membaca, menulis dan juga bermain language games. Tampilan yang dihasilkan dari piranti lunak ini bisa semenarik program yang dibangun dengan piranti lunak yang canggih. A. Pembelajaran Bahasa Pembelajaran bahasa asing adalah sebuah proses yang kompleks dengan berbagai fenomena yang pelik sehingga tidak mengherankan kalau hal ini bisa mempunyai arti yang berbeda-beda bagi setiap orang (Ellis, 1994). Pembelajaran ini dipengaruhi beberapa faktor. Faktor-faktor utama yang berkaitan erat dengan pemerolehan bahasa asing adalah bahasa pembelajar, faktor eksternal pembelajar, faktor internal pembelajar, dan pembelajar sebagai individu. Bahasa pembelajar adalah salah satu gejala yang banyak diamati para peneliti untuk melihat pemerolehan bahasa asing. Salah satu gejala dari bahasa pembelajar ini misalnya adalah kesalahan. Dengan mengamati kesalahan yang ada dapat dilihat proses pemerolehan bahasa seseorang yang pada gilirannya pendekatan pembelajaran atau pengajaran tertentu dapat diterapkan. Faktor di luar ataupun di dalam pembelajr sendiri adalah aspek yang tidak kalah pentingnya untuk dapat memahami pemerolehan bahasa. Faktor di luar pembelajar misalnya adalah lingkungan dan interaksi. Dua faktor ini sangat mempengaruhi perkembangan pemerolehan bahasa asing. Sedangkan faktor internal dari pembelajar diantaranya adalah pengaruh dari bahasa pertama atau bahasa lain. Faktor lain yang tak kalah pentingnya adalah pembelajar sendiri sebagai seorang individu. Setiap pembelajar tentu mempunyai perbedaan dengan pembelajar lain. Mereka mempunyai strategi pembelajaran yang berbeda. Media pembelajaran interaktif adalah sebuah media yang dibuat guna memenuhi berbagai kebutuhan pembelajar bahasa asing pada waktu salah satu atau semua faktor yang mempengaruhi pemerolehan bahasa kedua ini sulit didapatkan. B. Media Pembelajaran Media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan (Bovee, 1997). Media pembelajaran adalah sebuah alat yang berfungsi untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Pembelajaran adalah sebuah proses komunikasi antara pembelajar, pengajar dan bahan ajar. Komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana penyampai pesan atau media. Bentuk-bentuk stimulus bisa dipergunakan sebagai media diantaranya adalah hubungan atau interaksi manusia; realia; gambar bergerak atau tidak; tulisan dan suara yang direkam. Kelima bentuk stimulus ini akan membantu pembelajar mempelajari bahasa asing. Namun demikian tidaklah mudah mendapatkan kelima bentuk itu dalam satu waktu atau tempat. Tehnologi komputer adalah sebuah penemuan yang memungkinkan menghadirkan beberapa atau semua bentuk stimulus di atas sehingga pembelajaran bahasa asing akan lebih optimal. Namun demikian masalah yang timbul tidak semudah yang dibayangkan. Pengajar adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk merealisasikan kelima bentuk stimulus tersebut dalam bentuk pembelajaran. Namun kebanyakan pengajar tidak mempunyai kemampuan untuk menghadirkan kelima stimulus itu dengan program komputer sedangkan pemrogram komputer tidak menguasai pembelajaran bahasa. Jalan keluarnya adalah merealisasikan stimulus-stimulus itu dalam program komputer dengan menggunakan piranti lunak yang mudah dipelajari sehingga dengan demikian para pengajar akan dengan mudah merealisasikan ide-ide pengajarannya. Media pembelajaran yang baik harus memenuhi beberapa syarat. Media pembelajaran harus meningkatkan motivasi pembelajar. Penggunaan media mempunyai tujuan memberikan motivasi kepada pembelajar. Selain itu media juga harus merangsang pembelajar mengingat apa yang sudah dipelajari selain memberikan rangsangan belajar baru. Media yang baik juga akan mengaktifkan pembelajar dalam memberikan tanggapan, umpan balik dan juga mendorong mahasiswa untuk melakukan praktek-praktek dengan benar. Ada beberapa kriteria untuk menilai keefektifan sebuah media. Hubbard mengusulkan sembilan kriteria untuk menilainya (Hubbard, 1983). Kreteria pertamanya adalah biaya. Biaya memang harus dinilai dengan hasil yang akan dicapai dengan penggunaan media itu. Kriteria lainnya adalah ketersedian fasilitas pendukung seperti listrik, kecocokan dengan ukuran kelas, keringkasan, kemampuan untuk dirubah, waktu dan tenaga penyiapan, pengaruh yang ditimbulkan, kerumitan dan yang terakhir adalah kegunaan. Semakin banyak tujuan pembelajaran yang bisa dibantu dengan sebuah media semakin baiklah media itu. Kriteria di atas lebih diperuntukkan bagi media konvensional. Thorn mengajukan enam kriteria untuk menilai multimedia interaktif (Thorn, 1995). Kriteria penilaian yang pertama adalah kemudahan navigasi. Sebuah program harus dirancang sesederhana mungkin sehingga pembelajar bahasa tidak perlu belajar komputer lebih dahulu. Kriteria yang kedua adalah kandungan kognisi, kriteria yang lainnya adalah pengetahuan dan presentasi informasi. Kedua kriteria ini adalah untuk menilai isi dari program itu sendiri, apakah program telah memenuhi kebutuhan pembelajaran si pembelajar atau belum. Kriteria keempat adalah integrasi media di mana media harus mengintegrasikan aspek dan ketrampilan bahasa yang harus dipelajari. Untuk menarik minat pembelajar program harus mempunyai tampilan yang artistik maka estetika juga merupakan sebuah kriteria. Kriteria penilaian yang terakhir adalah fungsi secara keseluruhan. Program yang dikembangkan harus memberikan pembelajaran yang diinginkan oleh pembelajar. Sehingga pada waktu seorang selesai menjalankan sebuah program dia akan merasa telah belajar sesuatu. C. Pembelajaran Bahasa dengan Komputer Komputer telah mulai diterapkan dalam pembelajaran bahasa mulai 1960 (Lee, 1996). Dalam 40 tahun pemakaian komputer ini ada berbagai periode kecenderungan yang didasarkan pada teori pembelajaran yang ada. Periode yang pertama adalah pembelajaran dengan komputer dengan pendekatan behaviorist. Periode ini ditandai dengan pembelajaran yang menekankan pengulangan dengan metode drill dan praktek. Periode yang berikutnya adalah periode pembelajaran komukatif sebagai reaksi terhadap behaviorist. Penekanan pembelajaran adalah lebih pada pemakaian bentuk-bentuk tidak pada bentuk itu sendiri seperti pada pendekatan behaviorist. Periode atau kecenderungan yang terakhir adalah pembelajaran dengan komputer yang integratif. Pembelajaran integratif memberi penekan pada pengintegrasian berbagai ketrampilan berbahasa, mendengarkan, berbicara, menulis dan membaca dan mengintegrasikan tehnologi secara lebih penuh pada pembelajaran. Lee merumuskan paling sedikit ada delapan alasan pemakaian komputer sebagai media pembelajaran (Lee, 1996) Alasan-alasan itu adalah: pengalaman, motivasi, meningkatkan pembelajaran, materi yang otentik, interaksi yang lebih luas, lebih pribadi, tidak terpaku pada sumber tunggal, dan pemahaman global. Dengan tersambungnya komputer pada jaringan internet maka pembelajar akan mendapat pengalaman yang lebih luas. Pembelajar tidak hanya menjadi penerima yang pasif melainkan juga menjadi penentu pembelajaran bagi dirinya sendiri. Pembelajaran dengan komputer akan memberikan motivasi yang lebih tinggi karena komputer selalu dikaitkan dengan kesenangan, permainan dan kreativitas. Dengan demikian pembelajaran itu sendiri akan meningkat. Pembelajaran dengan komputer akan memberi kesempatan pada pembelajar untuk mendapat materi pembelajaran yang otentik dan dapat berinteraksi secara lebih luas. Pembelajaran pun menjadi lebih bersifat pribadi yang akan memenuhi kebutuhan strategi pembelajaran yang berbeda-beda. Di samping kelebihan dan keuntungan dari pembelajaran dengan komputer tentu saja ada kekurangan dan kelemahannaya. Hambatan pemakaian komputer sebagai media pembelajaran antara lain adalah: hambatan dana, ketersediaan piranti lunak dan keras komputer, keterbatasan pengetahuan tehnis dan teoris dan penerimaan terhadap tehnologi. Dana bagi penyediaan komputer dengan jaringannya cukup mahal demikian untuk piranti lunak dan kerasnya. Media pembelajaranpun kurang berkembang karena keterbatasan pengetahuan tehnis dari pengajar atau ahli pengajaran dan keterbatasan pengetahuan teoritis pembelajaran bahasa dari para pemrogram. D. Microsoft Powerpoint 2000 Microsoft Powerpoint 2000 adalah program aplikasi presentasi yang merupakan salah satu program aplikasi di bawah Microsoft Office. Keuntungan terbesar dari program ini adalah tidak perlunya pembelian piranti lunak karena sudah berada di dalam Microsoft Office. Jadi pada waktu penginstalan program Microsoft Office dengan sendirinya program ini akan terinstal. Hal ini akan mengurangi beban hambatan pengembangan pembelajaran dengan komputer seperti dikemukakan oleh Lee. Keuntungan lain dari program ini adalah sederhananya tampilan ikon-ikon. Ikon-ikon pembuatan presentasi kurang lebih sama dengan ikon-ikon Microsoft Word yang sudah dikenal oleh kebanyakan pemakai komputer. Pemakai tidak harus mempelajari bahasa pemrograman. Dengan ikon yang dikenal dan pengoprasian tanpa bahasa program maka hambatan lain dari pembelajaran dengan komputer dapat dikurangi yaitu hanbatan pengetahuan tehnis dan teori. Pengajar atau ahli bahasa dapat membuat sebuah program pembelajaran bahasa tanpa harus belajar bahasa komputer terlebih dahulu. Meskipun program aplikasi ini sebenarnya merupakan program untuk membuat presentasi namun fasilitas yang ada dapat dipergunakan untuk membuat program pembelajaran bahasa. Program yang dihasilkanpun akan cukup menarik. Keuntungan lainnya adalah bahwa program ini bisa disambungkan ke jaringan internet. 1. Memasukkan Teks, Gambar, Suara dan Video Fasilitas yang penting dari program apliokasi ini adalah fasilitas untuk menampilkan teks. Dengan fasilitas ini pembuat program bisa menampilkan berbagai teks untuk berbagai keperluan misalnya untuk pembelajaran menulis, membaca atau pembelajaran yang lain. Cara memasukan teks ke dalam program aplikasi ini cukuip sederhana. Sesudah pemakai menghidupkan komputer dan masuk program Power point 2000 dan sesudah memilih jenis tampilan layar maka pemakai dapat menekan menu insert sesudah itu akan muncul berbagai pilihan. Salah satu pilihan itu adalah insert textbox. Tekan menu ini dan akan muncul kotak teks di dalam tampilan presentasi. Langkah berikutnya adalah mengkopi teks yang ingin dimasukkan dan kemudian menempelkannya (paste) pada kotak yang tersedia. Apabila tidak ingin mengkopi bisa juga menulis langsung dalan kotak teks yang sudah tersedia. Untuk memasukan gambar langkahnyapun sama dengan cara memasukkan teks. Pertama tekan menu insert sesudah itu pilih menu insert picture. Sesudah menu ini dipilih akan muncul dua pilihan from file ... dan from clip art... Apabila pemrogram ingin memasukkan gambar dari file maka tekan pilihan pertama dan apabila ingin memakai gambar dari clip art yang sudah ada di komputer maka tekan pilihan yang kedua. Suara dan video merupakan dua fasilitas yang disediakan oleh Microsoft Powerpoint 2000 yang sangat mendukung pemrograman pembelajaran bahasa. Untuk memasukkan video tekan menu insert dan selanjutnya tekan menu movies and sounds. Maka akan muncul dua pilihan untuk masing-masing. Untuk suara (sounds) akan muncul sounds from file dan sounds from Gallery demikian pula untuk movies akan muncul pilihan Movies from file atau Movies from Gallery. Pemrogram tinggal memilih jenis file yang akan dimasukkan. 2. Membuat tampilan menarik Tampilan yang manarik akan meningkatkan minat dan motivasi pembelajar untuk menjalankan program. Ada beberapa fasilitas yang disediakan untuk membuat tampilan menarik. Fasilitas yang pertama adalah background. Background akan memperindah tampilan program. Ada beberapa jenis background yang ditawarkan, yang pertama adalah dengan memberi warna, yang kedua dengan memberi tekstur dan yang ketiga adalah memasang gambar dari file sendiri. Langkah pemasangan background adalah dengan menekan menu format dan kemudian menekan menu background. Sesudah itu akan muncul pilihan background fill, more color dan fill effects. Apabila pemrogram ingin memilih warna yang sudah ada maka tekan apply, apabila ingin memilih warna sendiri tekan more color, pilih warna dan tekan apply, dan apabila ingin memberi tekstur atau gambar sendiri maka tekan fill effects, pilih tekstur atau gambar dan tekan apply. Fasilitas lain yang akan membuat tampilan lebih menarik adalah fasilitas animasi. Dengan fasilitas ini gambar-gambar dan teks akan muncul ke layar dengan cara tampil yang bervariasi. Fasilitas animasi ini memungkinkan gambar atau objek lain tampil dari arah yang berbeda atau dengan cara yang berbeda. Objek bisa melayang dari atas, bawah, kanan, kiri, atau dari sudut. Objek juga bisa muncul dari tengah atau dari pinggir. Dengan sedikit kreatifitas fasilitas ini bisa menghasilkan language games yang menarik. Pembuatan animasi dimulai dengan memilih objek yang akan dibuat animasi dengan cara mengklik objek itu. Sesudah itu pilih menu Slide Show dan kemudian memilih menu Custom Animation. Sesudah menekan menu itu akan muncul berbagai pilihan diantaranya order and timing untuk mengatur urutan dan waktu tampil ke layar dan juga pilihan effects untuk mengatur efek yang diinginkan. 3. Membuat Hyperlink Fasilitas ini sangat penting dan sangat mendukung pembelajaran bahasa karena dengan hyperlink program bisa terhubung ke program lain atau ke jaringan internet. Hyperlink atau hubungan dalam satu program akan memungkinkan programer memberikan umpan balik secara langsung terhadap proses pembelajaran. Hubungan dengan program lain akan memperkaya fasilitas yang mendukung pembelajaran dan hubungan dengan internet akan membuka berbagai kemungkinan pembelajaran yang lebih luas, pribadi dan otentik. Langkah pembuatan hyuperlink adalah dengan memilih objek yang akan kita link ke program lain atau internet. Sesudah kita memilih objek kita mengklik menu insert dan kemudian mengklik menu hyperlink maka akan muncul dialog box dan kemudian kita menuliskan alamat yang dituju misalnya sebuah file atau sebuah situs web dan kemudian mengklik OK maka objek itu akan tersambung ke alamat yang ditulis. Cara yang kedua adalah melalui menu slide show dan kemudian menekan action settings, sesudah itu akan muncul dialog box. Dengan mengisikan alamat dan mengklik OK maka objek akan tersambung ke alamat yang diinginkan. Fasilitas-fasilitas diatas adalah fasilitas utama dalam pengembangan materi pembelajaran bahasa dengan Microsoft Powerpoint 2000. Fasilitas yang lain adalah fasilitas tambahan untuk membuat tampilan program lebih menarik dan mudah digunakan. E. Mengembangkan Pembelajaran Ketrampilan Berbahasa dengan Microsoft Powerpoint 2000 Pengembangan materi pembelajaran khususnya mendengarkan dan membaca dapat dikembangkan secara mudah dengan program ini. Materi pembelajaran bahasa yang dihasilkan oleh program aplikasi inipun cukup menarik, khususnya materi pembelajaran yang berupa permainan. 1. Membaca Fasilitas menampilkan teks dalam program aplikasi ini memungkinkan pembuatan materi pembelajaran ketrampilan membaca dengan mudah. Pembuat program bisa memasukan teks dalam slide pertama, kemudian memasukan latihan dlam slide kedua dan umpan balik latihan dalam slide berikutnya. Untuk memperindah tampilan teks-teks bacaan juga bisa dilengkapi dengan berbagai gambar. Apabila pembuat ingin memberikan materi pembelajaran yang lebih otentik maka bisa diberikan satu alamat situs web. Pembelajar akan membaca teks di situs itu kemudian kembali ke program dan mengerjakan latihan yang ada dan kemudian melihat slide umpan balik. 2. Mendengarkan Dengan adanya fasilitas memasukkan suara dan video maka pembelajaran ketrampilan mendengarkan mempunyai lebih banyak pilihan variasi. Pemrogram bisa membuat bahan pembelajaran dengan video ataupun audio. Seperti halnya pada membaca materi pembelajaran, latihan-latihan dan umpan balik dapat diberikan di slide-slide yang berbeda. Fasilitas hyperlink yang memungkinkan program dihubungkan dengan jaringan internet akan memperkaya penyediaan bahan pembelajaran. 3. Menulis dan Berbicara Keterbatasan program aplikasi ini adalah pada umpan balik yang berupa tulisan. Program ini tidak mempunyai fasilitas yang memungkinkan pembelajar memberikan umpan balik dalam bentuk tulisan atau suara. Namun demikian keterbatasan program dalam menyediakan fasilitas untuk umpan balik suara ini bisa diatasi dengan strategi pembelajaran gabungan, yaitu menggabungkan pembelajaran mandiri dan berpasangan. Sesudah menjalankan program komputer pembelajar diberi tugas untuk berinteraksi dengan pembelajar yang lain. Sedangkan untuk mengatasi keterbatasan dalam memberika umpan balik berupa tulisan dapat diatasi dengan mempergunakan fasilitas hyperlink. Pada waktu ada tugas menulis pembelajar dihubungan dengan program yang mempunyai fasilitas menulis seperti Microsoft Word misalnya. F. Membuat Permainan Fasilitas-fasilitas yang ada diatas juga sangat mendukung pengembangan bahan pembelajaran yang berupa permainan. Permainan yang ketrampilan yang menyerupai hangman atau mine sweep dapat dikembangkan dengan program aplikasi ini demikian pula permainan yang mengandalkan kecepatan. Tiap-tiap permainan yang dibuat tentu saja harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. Permainan penyapu ranjau (mine sweep) misalnya dapat dipakai untuk memfasilitasi pembelajaran kosa kata, sistem verba bahasa Indonesia atau pembelajaran kata depan. G. Keterbatasan Program Selain keunggulan yang telah dikemukakan program aplikasi ini mempunyai beberapa keterbatasan. Keterbatasan utamanya ialah pembelajar tidak bisa berinteraksi langsung untuk menuliskan komentar ataupun menjawab pertanyaan yang ada. Fasilitas yang ada hanya memfasilitasi tanggapan dalam bentuk pilihan. Namun dengan keterbatasan ini program ini tetap menawarkan fasilitas yang cukup untuk membuat sebuah program pembelajaran bahasa dengan mudah dengan hasil yang menarik. Selamat mencoba. References Bovee, Courland. 1997. Business Communication Today, Prentice Hall: New York. Brown, H. Douglas. 1994. Principles of Language Learning and Teaching, Prentice Hall Regents: New Jersey. Davis, Ben. 1991. Teaching with Media, a paper presented at Technology and Education Conference in Athens, Greece. Elliot, Stephen N et al,. 1996. Educational Psychology, Brown and Benchmark: Dubuque, Iowa. Hubbard, Peter et al. 1983. A Training Course for TEFL, Oxford University Press: Oxford. Hunter, Lawrence. 1996. CALL: Its Scope and Limits, The Internet TESL Journal, Vol. II, No.6, June 1996, http:/www.aitech.ac.jp/~iteslj/ Idris, Nuny S. 1999. Ragam Media Dalam Pembelajaran BIPA. A Paper presented at KIPBIPA III, Bandung. Jonassen, David H. 1996. Computer as a Mindtools for Schools. Prentice Hall. New Jersey. Kemp, Ferrod E. 1980. Planning and Producing Audiovisual Materials. Harper and Row: New York. Lee, Kwuang-wu. 2000. English Teachers’ Barriers to the Use of Computer-assisted Language Learning. The Internet TESL Journal, Vol. VI, No. 12, December 2000. http:/www.aitech.ac.jp/~iteslj/ Schocolnik, Miriam. 1999. Using Presentation Software to Enhance Language Learning. The Internet TESL Journal, Vol. V, No.3, March 1999, http:/www.aitech.ac.jp/~iteslj/

Proposal

BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian Pendidikan yang bermutu adalah pendidikan yang dapat mengembangkan semua kompetensi atau kecerdasan untuk memaknai semua pengalaman hidup secara kreatif (Daniel, 2007) dan Bimbingan dan konseli merupakan bagian integral dari sistim pendidikan solah dalam upaya membantiu siswa agar mencapai perkembangan yang optimal sesuai dengan potensinya. Secara khusus, layanan bimbingan dan konseling diadakan untuk membantu siswa agar dapat berkembang menjadi pribadi yang mnadiri, bertanggung jawab, kreatif, dan berprilaku jujur. Pada hakikatnya bantuan demikian itu dalam rangka memberikan dukungan terhadap tercapainya tujuan pendidikan nasional. Tujuan pendidikan nasional yang dimaksud telah dicantum secara resmi di dalam suatu uu yang termasuknya untuk menjadi acuan bersama dalam mengarahkan segala upaya pendidikan. UU RI No 20/2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional Bab II Pasal 3 menyatakan fungsi serta tujuan Pendidikan Nasional adalah sebagai berikut: Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk kemampuan watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupannya bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri san menjai warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Depdiknas, 2003). Dan tujuan pendidikan nasional sejalan dengan tujuan bimbingan dan konseling, yaitu membnatu siswa mengenal potensi dirinya, mengenal lingkungan dan mampu merencanakan masa depan (Mulyadi, 2003) Berdasarkan uraian diatas dapat ditarik sebuah makana bahwa konselor sekolah mempunyai peran penting dalam mendukung masa perkembangan anak sekolah SMP, mengingat anak pada masa itu mulai memasuki masa remaja awal. Menurut Andi Mapiare (1988) Pada saat ini anak sudah menuju kematangan fisik dan mental.ia mempunyai perasaan –perasaan dan kegiatan baru sebagai akibat perubahan – perubahan tubunya. Perasaan suka pada lawan jenis sudah lam tumbuh, percantik diri dan mengikuti gaya hidup idolanya. Masalah yang mungkin saja bisa timbul antara lain malas belajar karena berbagai penyebab, rendah diri dan masih banyak lagi permasalah-permasalah yang dialami oleh siswa pada masa kini. Merujuk dari pernyataan tersebut maka kompetensi siswa dapat terwujud dari proses pembelajaran yang baik. Selama ini seringkali sebagian dari masyarakat mengartikan bahwa seolah-olah satu-satunya tempat belajar hanyalah sosok yang disebut sekolah. Sehingga kesan formalitas itu menjadi semakin jelas dan membelenggu pola pikir kita bahwa apabila ingin menggali ilmu atau mengembangkan potensi diri haruslah berada atau melalui sebuah lembaga yang bernama sekolah. Dalam rangka mencapai pendidikan yang bermutu yang dimaksud maka sekolah harus mampu mengembangkan konsep-konsep terpadu dalam rangka membentuk sebuah sekolah dengan suasana dan budaya yang mendukung proses pembelajaran. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah menjadikan sekolah sebagai wahana belajar yang efisien, efektif dan membuat seluruh komponen sekolah memberikan dukungan yang kuat. Berdasarkan studi pendahuluan selama masa PPL di SMP Negeri 1 Madapangga, didapati siswa yang mengalami masalah malas belajar. Malas belajar pada anak secara psikologis merupakan wujud dari melemahnya kondisi mental, intelektual, fisik, dan psikis anak. Hal ini akan dapat berdampak pada prestasi belajar. Perilaku belajar siswa akan sangat dipengaruhi ketercapaian prestasi belajar siswa secara optimal. Perilaku belajar yang baik akan membawa pada prestasi belajar yang baik demikian sebaliknya, dan hal ini memungkinkan kehadiran dari seorang konselor sekolah yang mampu memberikan sebuah layanan konseling dengan pendekatan yang bisa menangani masalah siswa, sehingga siswa tersebut tidak lagi malas untuk belajar. Namun demikian, yang jelas bahwa pemberian bantuan tersebut haruslah dilaksanakan orang-orang yang terlibat dalam proses belajar mengajar. Maka disinilah perlunya bimbingan dan Konseling dengan berbagai pendekatannya yang diharapkan mampu memecahkan masalah siswa yang dimaksud. Bimbingan dan Konseling merupakan suatu wadah yang bisa digunakan dalam rangka memecahkan masalah siswa yang ada di sekolah, melalui proses konseling individual tidak dapat berjalan dengan efektif apabila tidak didukung dengan profesionalismenya guru Bimbingan dan Konseling tersebut dalam melayani siswanya dengan terprogram secara efektif apabila kurang atau tidak didukung faktor lain, misalnya faktor pengalaman bekerja, proses belajar mengajar yang terjadi di SMP Negeri 1 Madapangga tidak selamanya berjalan seperti apa yang diharapkan terjadi. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa bimbingan dan konseling adalah suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis kepada individu dalam memecahkan masalah yang dihadapi agar tercapai kemampuan untuk dapat memahami dirinya (self aceptance), kemampuan-kemampuan untuk mengarahkan dirinya (self understanding), kemampuan untuk merealisasikan dirinya (self realization) sesuai dengan potensi atau kemampuan dalam mencapai penyesuaian diri dengan lingkungan, baik keluarga, sekolah, maupun masyarakat (Djumhur, 1975:28). Menurut Krumboltz dan Thoresen (Shertzer & Stone, 1980, 190) konseling behavior merupakan suatu proses membantu orang untuk memecahkan masalah interpersonal, emosional dan keputusan tertentu. Dengan adanya konseling behavior ini diharpakan masalah yang ada pada diri siswa dapat diselesaikan sehingga proses belajar mengajar berjalan dengan lancar. Dengan adanya pendekatan behavioral ini, konselor memanfaatkannya dalam rangka memecahkan masalah siswa yang mana masalah pada diri siswa merupakan suatu perilaku hasil belajar sehingga dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi belajar. Pada dasarnya, proses konseling merupakan suatu penataan proses atau pengalaman belajar untuk membantu individu mengubah perilakunya agar dapat memecahkan masalahnya. Manusia dalam hal ini siswa bukanlah hasil dari dorongan tidak sadar melainkan merupakan hasil belajar (DYP Sugiharto,2008) sehingga ia dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi pembentukan tingkah laku. Dalam konteks ini pendekatan behavioral memodifikasi tingkah laku melalui pemberian penguatan. Agar klien terdorong untuk merubah tingkah lakunya penguatan tersebut hendaknya mempunyai daya yang cukup kuat dan dilaksanakan secara sistematis dan nyata-nyata ditampilkan melalui tingkah laku klien. Berdasarkan kondisi rill yang diamati peneliti maka peneliti tertarik untuk menganalisa dan menelusuri lebih jauh permasalah di atas melalui sebuah penelitian yang berjudul: Implementasi Pendekatan Behavioral dalam Memecahkan Masalah Malas Belajar Pada siswa SMP Negeri 1 Madapangga. Tahun Pelajaran 2010/2011. B.Fokus Penelitian Berdasarkan latar belakang yang telah diuraian, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: ingin mengetahui Implementasi Pendekatan Behavioral Dalam Menangani Masalah Malas Belajar di SMP Negeri 1 Madapangga Tahun Pelajaran 2010/ 2011 ? C.Tujuan Penelitian Dari rumusan masalah di atas, maka yang menjadi tujuan penelitian yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: Untuk mengetahui Implementasi Pendekatan Behavioral Dalam Menangani Masalah Malas Belajar di SMP Negeri 1 Madapangga Tahun Pelajaran 2010/ 2011. D.Manfaat Penelitian Kegunaan atau manfaat pada penelitian yang dilaksanakan ini adalah dapat berguna secara teoritis maupun secara praktis. Adapun kegunaan dalam penelitian ini adalah : 1.Kegunaan secara teoritis a.Memberikan sumbangan yang berguna dalam memperkaya khasanah ilmu, dalam bidang bimbingan belajar khususnya dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah b.Diharapkan juga dalam penelitian ini bermanfaat bagi pengembangan konsep tentang penggunaan pendekatan Behavioral untuk menangani masalah siswa. 2.Kegunaan secara praktis Diharapkan hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan untuk mengoptimalkan layanan bimbingan dan konseling serta mengembangkan mutu pendidikan di SMP Negeri 1 Madapangga. E.Metode Penelitian 1.Pengamatan Menurut Moleong (2001) mengemukakan ada beberapaalasan metodologis bagai penggunaan pengamatan, yaitu (1) pengamatan mengoptimlakan kemampuan peneliti dari segi motif, kepercayaan, perhatian, perilaku tak sadar kebiasaan dan sebagainya;pengamatan memungkinkan pengamatan untuk melihat dunia sebagaimana yang dilihat oleh subyek penelitian, hidup pada saat itu, menangkap arti fenomena dari segi pengertian subyek, memungkinkan peneliti merasakan apa yang dirasakan dan dihayati oleh subyek sehingga memungkinkan pula peneliti sebagai sumber data. Dalam penelitian ini peneliti akan mengamati secara langsung implementasi pendekatan behavioral dalam menangani masalah malas belajar siswa. pengamatan ini akan dilakukan ketika konselor sekolahmelakukan penanganan konseling terhadap siswa dengan setting penelitian di lingkungan sekolah, tempat tinggal siswa, dan lingkungan tempat bermain siswa yang mengalami masalah malas belajar. Data-data yang dikumpulkan bukan saja data yang dilakukan melalui indera penglihatan (hal yang diamati), akan tetapi data-data yang diperoleh melalui apa yang dieasakan dan didengar oleh peneliti melalui alat penginderaan. 2.Wawancara Moleong Lexy J. (2001) mengartikan wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu, percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interviwee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Teknik ini adalah Kegiatan pengumpulan data untuk mendukung serta melengkapi data yang telah diamati. Dalam melakukan teknik ini peneliti akan menyusun pedoman wawancara, sehingga data yang dikumpulkan dapat digali secara total dan lengkap. 3.Studi Dokumentasi. Teknik ini mempelajaridan memperoleh data tertulis yang akan mendukung data dari kedua teknik dan memperoleh data tertulis yang akan mendukung data dari kedua teknik pengumpulan data di atas. Data-data yang dimaksud adalah tentang gambaran umum sekolah, keadaan siswa, guru mata pelajaran dan pegawai. F.Ruang Lingkup Penelitian Agar penelitian ini terarah dan sesuai dengan tujuan pendidikan, maka dipandang perlu diberikan batasan ataupun ruang lingkup penelitian sebagai berikut: 1.Variabel dalam penelitian ini adalah pengaruh pemberian layanan bimbingan belajar terhadap perilaku belajar siswa. 2.Subyek penelitian adalah siswa kelas SMP Negeri 1 Madapangga tahun pelajaran 2009/2010. 3.Waktu penelitian direncanakan berlangsung selama dua bulan dimulai sejak Mei 2010 sampai Juni 2010. 4.Lokasi penelitian adalah bertempat di SMP Negeri 1 Madapangga. G.Devinisi Operasional Variabel Untuk memperjelas tentang rumusan masalah penelitian tersebut di atas, maka dipandang perlu diberikan definisi operasional variabel penelitian sebagai berikut: 1.Pendekatan Behavioral adalah suatu teknik konseling. konsseling behavior merupakan suatu proses membantu orang untuk memecahkan masalah.interpersonal, emosional dan keputusan tertentu (Krumboltz dan Thoresen dalam shertzer & Stone, 1980, 190). 2.Malas belajar berarti tidak mau, enggan, tak suka, tak bernafsu untuk belajar (Muhammad Ali, Kamus Bahasa Indonesia). Malas belajar pada anak secara psikologis merupakan wujud dari melemahnya kondisi mental, intelektual, fisik, dan psikis anak BAB II KAJIAN PUSTAKA A.Konseling Behavioral 1.Konsep utama 2.Pandangan tentang manusia 3.Metode yang digunakan 4.Strategi mengubah perilaku 5.Proses konseling B.Malas Belajar 1.Pengertian malas belajar 2.Indikator malas belajar 3.Faktor-faktor yang mempengaruhi malas belajar 4.Solusi mengatasi masalah belajar C.Implementasi Pendekatan Behavioral Dalam Mengatasi Malas Belajar BAB III METODOLOGI PENELITIAN A.Desain Penelitian Berdasarkan uraian fokus dan tujuan penelitian yang ingin dicapai dalam penelitian ini, maka penelitian menggunakan rancangan penelitian kualitatif, yaitu penelitian yang bermaskud menggmbarkan keadaan atau fenomena yang terjadi sebagaimana arah pencapaian fokus penelitian. Pendekatan kualitatif cenderung menggunakan analisis induktif, dimana proses penelitian dan pemberian makna terhadap data dan informasi lebih ditonjolkan dengan ciri utama pendekatan, penelitian ini adalah bentuk narasi yang bersifat kreatif dan mendalam serta naturalistik. Menurut Bogdan dan Taylor dalam bukunya “Metodologi penelitian kualitatif mendevisikan sebagai berikut: metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif merupakan kata-kata tertulis dan lisan dari orang –orang yang berprilaku yang diamati. Menurut mereka diarahkan pada individu tersebut secara holistik (utuh). Jadi dalam hal ini tidak boleh mengisolasikan individu atau organisasi kedalam variabel atau hipotesis, tetapi perlu memandangnya sebagai bagian suatu keutuhan. Menurut mereka diarahkan pada dari individu atau organisasi kedalam variabel atau hipotesis, tetapi perlu memandangnya sebagai bagian dari suatu keutuhan” (Moleong, 1990). Sedangkan menurut Muhammad Ali (1997) “Penelitian kualitatif adalah merupakan salah satu pendekatan dalam melakukan penelitian yang berorientasi pada gejala-gejala yang bersifat alamiah. Karena orientasinya demikian, maka sifatnya naturalistik dan mendasar atau bersifat kealamiahan serta tidak dilakukan di laboratorium melainkan di lapangan” Kedua pendapat di atas mengambarkan dengan jelas bahwa pendekatan kualitatif berusaha menghasilkan data deskriptif, ucapan atau tulisan dan perilaku yang dapat diamati dengan pendekatan kualitatif akan berusaha menggali informasi sebanyak-banyaknya dari subyek penelitian, disini biasa berarti organisasi kelompok atau individu. B.Kehadiran Penelitian Sebagai Penelitian Sesuai dengan pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan kualitatif, maka kehadiran peneliti dilapangan merupakan hal yang sangat penting, karna peneliti bertindak sebagai instrumen utama dan sekaligus sebagai pengumpul data penelitian yang diperlukan. Menurut Bokdan dan Biklek (dalam muleong, 2001) menyatakan bahwa sebagai instrumen kunci peneliti, yang harus dapat menangkap makna dan berinteraksi terhadap nilai-nilai lokal, karena tidak dapat dilakukan jika hanya melakukan kuesioner. Dalam pengumpulan data, penulis walaupun bertindak sebagai penentu agar tercapainya kelengkapan data, penulis akan di bantu oleh beberapa instrumen atau alat yang mendukung pengantaran penulis yaitu melalui: (1) pedoman pengamatan, yaitu instrumen yang berisi tentang daftar tempat atau obyek yang akan dipengamatan, (2) pedoman wawancara, yaitu berisi tentang sejumlah pertanyaan-pertanyaan yang akan menggali data dari seluruh informan bagi kelengkapan data penelitian. Sedangkan data yang berupa dokementasi, didapatkan langsung pada data buku induk siswa, raport, serta data-data kasus siswa yang telah tersedia di SMP Negeri 1 Madapangga. C.Waktu Penelitian Peneliti akan berada di lapangan penelitian selama tiga bulan yaitu dimulai pada tanggal Mei sampai dengan Juli 2011 D.Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Madapangga Jln. Lintas Woro-Campa No 1 Desa Dena Kecamatan Madapangga Kabupaten Bima. E.Prosedur Pengumpulan Data 1.Jenis Data Data-data tersebut dapat berupa dokumen tentang cacatam kasus siswa, perilaku maupun kalimat (pernyataan) yang menggambarkan tentang pendapat, ide atau pemikiran serta pengalaman yang dialami oleh para informan dalam mengamati upaya konselor dalam menangani masalah siswa tersebut. Data yang digali dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari informan yang diterima oleh peneliti, sedagkan data sekunder adalah data yang berupa catatan masalah siswa yang mendukung kelengkapan data primer. 2.Sumber Data Dalam mengumpulkan data sebagaimana yang diharapkan oleh peneliti , maka yang menjadi sumber datanya dapat dikategorikan berupa data dokemen dan sumber data individu yang menjadi subyek penelitian, yaitu konselor sekolah, guru-guru, orangtua siswa, teman siswa, serta siswa yang mengalami masalah malas belajar sebagai obyek penelitian ini. F.Metode Penelitian Adapun metode penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1.Pengamatan Pengamatan adalah pencacatan secara sistematik terhadap suatu gejala yang tampak pada objek penelitian (Sutrisno Hadi, 1987). Dalam penelitian ini pengamatan yang digunakan adalah pengamatan partisipan dimana peneliti ikut terlibat dalam hal yang akan diteliti (Andi Praswoto, 2010). Ada beberapa alasan mengapa dalam penelitian kualitatif, pengamatan dimanfaatkan sebesar-besarnya, hal ini didasari oleh pendapat yang dikemukakan oleh Moleong (2001) sebagai berikut: (1) teknik pengamatan ini didasarkan atas pengalaman secara langsung, (2) dengan tekik pengamatan memugkinkan mellihat dan mengamati sendiri, kemudian mencatat perilaku dan kejadian sebagaimana pada keadaan yang sebenarnya, (3) pengamatan memungkinkan peneliti mencatat peristiwa dalam situasi yang berkaitan dengan pengetahuan proporsional maupun pengetahuan yang langsung diperoleh dari data, (4) menghindari adanya keraguan peneliti tentang adanya data yang bias atau adanya jarak penelitian dan yang akan diwawancarai, dalam hal ini untuk mengecek kepercayaan data tersebut harus melalui pengamatan, (5)teknik ini memungkinkan peneliti mampu memahami stuasi-situasi yang rumit. 2.Wawancara Wawancara atau interview adalah metode pengumpulan data yang menghendaki komunikasi langsung antara penyelidik dengan subyek atau responden (Yatim Riyanto, 2001), selanjutnya I Djumhur dan Moh. Surya (1975) mengartikan wawancara adalah metode pengumpulan data dengan jalan mengadakan komunikasi dengan sumber data. Komunikasi tersebut bisa dilakukan dengan dialog (tanya-jawab) secara lisan,baik langsung maupun tidak langsung. Pendapat lainnya menyatakan, wawancara adalah metode pengambilan data dengan cara menanyakan sesuatu kepada seseorang responden, caranya adalah dengan cara bercakap-cakap secara tatap muka (Prabowo, 1996) 3.Dokumentasi Menurut Moleong (2001) mengemukakan metode dokumentasi adalah cara mengumpulkan data dengan mencatat data-data yang sudah ada. Selanjutnya menurut Kartini Kartono, (1980) mendevinisikan metode dokumentasi adalah teknik pengumpulan data dengan mendapatkan barang-barang tertulis. Ditambahkan pula oleh Usman dan Akbar (1996) bahwa data-data yang dikumpulkan dengan teknik dokumentasi cenderung merupakan data sekunder. Pada penggunaan metode ini, peneliti akan mencatat data-data tertulis yang ada pada SMP Negeri 1 Madapangga yang secara langsung mendukung kelengkapan data-data yang dibutuhkan pada penelitian ini. Dalam hal ini berupa data permasalahan siswa dan prestasi belajar siswa. G.Analisa data Adapun rangkaian proses analisis dalam data penelitian ini mengikuti prosedur sebagai berikut: 1.Reduksi data Data yang sudah dikumpulkan kemudian dicermati, diedit, dipilih, anatara data yang diperlukan dengan data yang tidak diperlukan. Data yang berkaitan dengan penelitian, kemudian diklarifikasi dan diberi pengkodean sesuai dengan tujuan penelitian, mengenai data yang tidak berhubungan dengan penelitian untuk semetara diabaikan atau direduksi. 2.Penyajian data Data yang sudah diedit, diklarifikasi, diseri kode, kemudian diorganisir secara keseluruhan., secara rinci reduksi data yang telah dilakukan dalam penelitian ini adalah proses pemilahan, pemusatan perhatian untuk menyederhanakan pengabstrakan dan transformasi data kasar yang diperoleh dilapangan. Kegiatan redukasi data ini dilakukan secara berkesinambungan mulai dari awal Kegiatan hingga akhir pengumpulan data. Data yang direduksi kemudian dilanjutkan dengan pemberian singkatan, pengelompokan, pemusatan tema, penentuan data yang sifatnya kuantitaif disajikan dalam bentuk tabel, sedangkan data yang sifatnya deskriptif seperti seperti perilaku, makna, konsep, alasan dan pernyataan disajikan dalam bentuk naratif deskriptif. 3.Penarikan Kesimpulan Langkah ini adalah langkah terakhir dalam Kegiatan analisa data dalam penelitian ini. Data yang telah direduksi dan diorganisir dalam bentuk sajian data, kemudian disimpulkan sesuai dengan fokus dan tujuan penelitian. H.Teknik Pemeriksaan Keabsahan data Dalam pemeriksaan keabsahan data ini, peneliti menggunkan langkah-langkah pemeriksaansebagaimana yang dikembangkan oleh Moleong (2001) sebagai berikut: 1.Perpanjangan Keikutsertaan Sebagai mana ciri kualitatif adalah peneliti merupakan instrumen dalm penelitian itu sendiri. Keikutsertaan peneliti dalam hal ini sangat menentukan dalam pengumpulan data, hal ini sesuai dengan fokus yang dikembangkan dalam penelitian ini yaitu mengamati atau memotret perlakuan konselor sekolah dalam menangani siswa yang mengalami masalah malas belajar melkalui pendekatan behavioral yang dilakukan dalam berbagai latar penelitian. Perpanjangan keikutsertaan ini peneliti secara jelas akan memungkinkan adanya derajat kepercayaan terhadap data yang dikumpulkan. Hal ini disebabkan: (1) peneliti dapat melihat secara langsung peran konselor sekolah dalam proses konseling, sehingga dapat menguji ketidak benaran setiap informasi dan ketetapan penggunaan teori konseling yang ideal, (2) peneliti seperti terjun ke latar penelitian dalam waktu yang cukup lama sampai proses konseling dilakukan Termination (pengakhiran). Hal ini juga dapat dilakukan secara sistematis setelah tercapainya hasil yang optimal terhadap adanya indikasi perubahan pada kasus yang dialami oleh siswa. 2.Ketekunan Pengamatan Untuk itu dalam melakukan pengamatan, peneliti akan melakukan dengan teliti dan rinci secara berkesinambugan terhadap hal-hal yang dilakukan oleh konselor sekolah. Kemudian menelaah setiap data yang didapat dan dipahami dengan jelas, sehingga pada pemeriksaan tahap awal peneliti mampu menguraikan secara rinci terhadap data yang masih bersifat tentatif dan ketekunan pengamatan dapat diambil sehingga penelahan secara rinci pada pemeriksaan selanjutnya dapat dilakukan. 3.Trianggulasi Trianggulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain doiluar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Penelitian ini dilakukan pemeriksaan melalui sumber lainnya. Denzim dalam Moleong (2001) membedakan empat macam trianggulasi sebagai teknik pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan sebagai berikut: Sumber, yaitu membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metoide kualitatif. Patton dalam Moleong (2001) menjelaskan hal ini dt tercapai dengan jalan: (1) membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara, (2) membandingkan apa yang dikatakan orang depan umum dan yang dikatakan secara pribadi, (3) membandingkan dengan yang dikatakan orang –orang tentang situasi dan yang dikatakan sepanjang waktu, (4) membandingkan yang dikatakan orang –orang atau rakyat biasa dengan orang yang berpendidikan tinggi, dan (5) membandingkan hasil wawancara dengan isi dokumen yang berkaitan. 4.Diskusi Teman Sejawat Teknik ini telah dilakukan oleh peneliti dengan cara mengesposkan kembali hasil sementara atau hasil akhir yang dperoleh dalam bentuk diskusi analitik dengan rekan-rekan sejawat. Teknik ini mengandung beberapa maksud sebagai salah satu teknik pemeriksaan keabsahan data, yaitu: (1) dalam hal ini peneliti tetap mempertahankan sikap terbuka dan kejujuran. 5.Kecukupan Referensial Kecukupan referensial adalah sebagai alat untuk menampung dan menyesuaikan dengan kritik tertulis untuk keperluan evaluasi. Teknik ini dapat dipenuhi dengan menggunakan alat bantu format pengamatan, format wawancara yang berisi pertanyaan kunci (key quetion). I.Tahap-Tahap penelitian Tahapan penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah tahap-tahap yang dikembangkan oleh Moleong (2001) yaitu sanduran dari tahapan penelitian yang dikembangkan oleh baogdan, Kirk dan Miller, adapun tahap-tahap yang dimaksud adalah sebagai berikut: 1.Tahap Pralapangan 1)Menyusun rancangan penelitian atau yang disebut dengan usulan penelitian yang berisi (1) latar belakang masalah dan alasan pelaksanaan penelitian, (2) kajian kepustakaan, (3) pemilihan lapangan, (4) penentuan jadwal penelitian, (5) rancangan pengumpulan dat, (6) rancangan prosedur pengumpulan data dan, (7) rancangan pengecekan kebenaran data. 2)Memilih lapangan penelitian. Berdasarkan studi pendahuluan maka kasus yang dipilih peneliti dalah hal ini adalah di SMP Negeri 1 Madapangga 3)Mengurus perijinan. Kegiatan ini dilakukan setelah diadakan seminar, perijinan disampaikan kepada sekolah sebagai lokasi penelitian, dengan tembusan bapak Bupati Bima, Kepala Kantor Pendidikan Pemuda dan Olahraga 4)Menjajaki dan menilai keadaan lapangan, yaitu memahami pemahaman dan peraturan di SMP Negeri 1 Madapangga, visi dan misi sekolah dan penyesuaian diri terhadap tempat tinggal konselisituasi serta teman dekat konseli 5)Memilih dan memanfaatkan informan. Dalam mengumpulkan data peneliti melakukan pemanfaatan orangtua, wali kelas, teman dan orang yang dianggap kompeten dalam memahami permasalahan konseli 6)Mempersiapkan perlengkapan penelitian, perlengkapanberupa buku cacatan lapangan, alat tulis menulis, kertsa, map dan persiapan dalam melakukan kunjungan runah dan jalan menuju setiap latar penelitian. 2.Tahap Pekerja lapangan 1)Memahami latar penelitian dan persiapan diri. Untuk memasuki pekerjaan di SMP Negeri 1 Madapangga, penelitian memahami latar penelitian terlebih dahulu , baik yang menyangkut persoalan etika, penampilan ketika penelitian, dan waktu atau kesepakatan kapan dilakukan pengamatan 2)Memasuki lapangan, dalam tahap ini peneliti membia hubungan keakraban dengan seluruh guru disekolah beserta pegawai dan siswa–siswanya, mengenal karakteristik yang dilakukan dan menjelaskan peranan peneliti dan tujuan terhadap orang-orang yang dianggap perlu dan memungkinkan untuk dilakukan semasih tetap menjaga naturalnya data-data penelitian. 3)Berperan serta sambil mengumpulkan data, peneliti terus mengarahkan data penelitian berdasarkan batasan penelitian dengan mencatat data, menganalisis datasambil mengkonsultasikan ke dosen-dosen pembimbing sampai data penelitian dianggap lengkap dan layak dijadikan hasil karya ilmiah yang nanti berupa skripsi. DAFTAR PUSTAKA Agus Haryanto. 2008. Peraan Konselor Sekolah Dalam Menangani Inferiority. Bima: STKIP Bima Akhmad Sudratajat. 2008. Pendekatan Konseling Behavioral. Jakarta:Usaha Nasional Andi Praswoto, 2010. Menguasai Teknik-Teknik Koleksi Data Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Diva Press. Andi Mapiare. 1988. Pengantar Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Surabaya: Usaha nasional. Arikunto Suharsimi. 1999. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. Bogdan. 1993. Dasar-Dasar Penelitian kualitatif. Surabaya: Usaha Nasional. ______dan Taylor. 1993. Metodologi Penelitian. Surabaya: Usaha Nasional Daniel. 2007. Makalah Pengantar Pendidikan. Depdiknas RI 2002. Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Depdiknas RI, Jakarta. Djumhur dan Muh. Surya, 1975. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah. Bandung: CV. Ilmu Bandung D.Y.P. Sugiharto Dr , M.Pd. 2008 .Makalah Pendekatan-Pendekatan Konseling. Juanda Mansyur. 1999. Konselor sekolah di indonesia. Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang. ____________. 2005. Teori Behavioral. Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang. Gerald Corey. 2009. Teory dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: Refika Aditama Hadi, Soetrisno. 2004. Metodologi Research. Yogyakarta: Andi ofset http:// Daniel.wordpress.com.pendekatan-konseling-behavioral/ http://akhmadsudrajat.wordpress.com.pendekatan-konseling-behavioral/ http://www.e-psikologi.com./anak/ I.B. Netra. 1979. Methodologi Research Jilid III. Yogyakarta: Penerbit Fakultas IKIP Malang. Moleong, Lexy. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rodaskarya Muhammad Ali. 1997. Penelitian kualitatif. Surabaya: Usaha Nasional Nasution. 2002. Makalah Seminar Bimbingan dan Konseling dalam Perpektif Global. Prabowo. 1996. Memahami Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Andi ofset Poerwadarminta. W.S.S. 1984. Kamus Umum Bahasa Indonesia.Jakarta: Balai Pustaka Universitas Negeri Malang. 2007. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Malang: UNM Usman dan Akbar. 1996. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rodaskarya Walgito, Bimo. 2004. Bimbingan dan Konseling (Studi dan Karir). Yogyakarta: Media Abadi W. S Winkle dan Sri Hastuti. 2001. Bimbingan dan Konseling di Institut Pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi Yatim Riyanto. 2001. Metodologi Penelitian Pendidikan. Surabaya. Usaha Nasional.